Oleh: arkeologibawahair | 16 Desember 2010

Situs Kapal Kuno Butuh Peneliti

regional.kompas.com, Kamis, 14 Oktober 2010 – Peneliti Badan Arkeologi Yogyakarta Novida Abbas mengatakan, pihaknya memerlukan keterlibatan peneliti lain, termasuk dari luar negeri, untuk menguak potensi kekayaan budaya di sekitar situs kapal kuno di Desa Punjulharjo, Rembang, Jawa Tengah.

Peneliti Badan Arkeologi Yogyakarta Novida Abbas mengatakan, pihaknya memerlukan keterlibatan peneliti lain, “Kami akan menginformasikan potensi ini ke banyak pihak dan peneliti lain sebagai dasar untuk merumuskan langkah lanjut, termasuk soal museum budaya,” kata Novida Abas, di Rembang, Rabu.

Novida Abbas, yang ditemui di sela-sela pertemuannya dengan warga setempat, juga mengatakan, pemerintah diharapkan memberikan perhatian terkait rencana pembangunan Museum Budaya Maritim Terpadu berskala nasional di kabupaten itu.

“Ada cukup banyak potensi yang memungkinkan pembangunan museum tersebut. Selain situs kapal kuno abad ketujuh, di sekitar situs juga ditemukan barang-barang keramik dan uang koin kuno, serta sejumlah barang kuno era Kerajaan Majapahit,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus melakukan eksplorasi untuk menemukan lapisan budaya di sekitar situs kapal kuno, terutama di sisi timur lokasi. “Kami yakin, ketika di lapisan pertama ditemukan benda-benda peninggalan budaya Majapahit, maka di lapisan kedua dan ketiga, akan ditemukan peninggalan budaya yang lebih tua, sehingga keterlibatan peneliti lain begitu diharapkan,” katanya.

Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia Rembang Edy Winarno mengatakan, dalam waktu dekat peneliti dari Conservation Science Laboratorium, World Heritage Studies Program, Universitas Tsukuba, Jepang, Matsui Tosiya, juga akan meneliti situs tersebut.

“Sejauh ini kami masih mengomunikasikan rencana pembangunan museum budaya maritim terpadu terbesar di Indonesia tersebut dengan banyak pihak, baik dengan pemerintah kabupaten maupun pusat,” katanya.

Dia menjelaskan, sejak ditemukannya situs perahu kuno pada 26 Juli 2008, sejumlah peneliti terus melakukan konservasi.

Berdasarkan hasil sampel kayu perahu yang dikirim ke Amerika Serikat untuk diteliti melalui teknologi “carbon dating”, perahu dengan ukuran 15,2 x 47 meter itu dipastikan sebagai produk abad ke-7 Masehi atau sekitar era Mataram Hindu.

Perahu itu diperkirakan jauh lebih tua dibandingkan Candi Borobudur yang dibangun pada sekitar abad ke-9 Masehi. Hal ini juga didasarkan pada badan perahu yang terbuat dari kayu ulin serta ornamen ukir era kerajaan Majapahit.

About these ads

Responses

  1. karena perairan indonesia cukup luas dan kaya akan barang yang terkandung dibawahnya gobalah pemerintah kita kebih memfokuskan pada saat ini menggali prospek yang berada diperairan kita…jangan sampai kita yang punya negara lain yang mengambil hasilnya, dari segala jenis barang yang berada didalamnya dan pencurian yang marak akhir ini karena kurangnya pengawasan yang terpadu


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.