Oleh: arkeologibawahair | 28 September 2010

Pameran dan Seminar Warisan Budaya Bawah Air

Tempointeraktif.com, Rabu, 4 Agustus 2010 – Pameran dan Seminar Warisan Budaya Bawah Air ini dilatarbelakangi oleh kontroversi seputar lelang benda muatan kapal tenggelam (BMKT) dari perairan Cirebon, Jawa Barat. Selain itu, kegiatan ini juga dilatarbelakangi adanya ketidaktahuan sebagian besar masyarakat tentang kebijakan pengelolaan warisan budaya bawah air.

Dalam keterangannya, panitia menyatakan bahwa tujuan pemeran dan seminar ini untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana hukum yang berlaku, serta bagaimana rencana pemerintah ke depan terkait pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya bawah air.

Seminar warisan budaya bawah air ini yang digelar di Ruang Sidang Museum Nasional, Jakarta, pada Rabu ini menampilkan pembicara dari latar belakang bidang yang berbeda. Mereka, antara lain, Surya Helmi (Direktur Peninggalan Bawah Air, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata), Suryanto (Direktur Lelang, Kementrian Keuangan), Masanori Nagaoka (UNESCO Jakarta), dan Supratikno Rahardjo (Dosen Arkeologi Universitas Indonesia).


Ratifikasi Konvensi Warisan Budaya Bawah Air

Meski Badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) mendesak Indonesia segera meratifikasi Konvensi Internasional Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air, tampaknya eksekusinya masih jauh panggang dari api.

“Belum dalam waktu dekat, kajiannya belum ada,” kata Direktur Jenderal Sejarah dan Arkeologi Kementerian Kebudayan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat dalam diskusi di Museum Nasional, Rabu (4/8)

Pasalnya, konsekuensi ratifikasi adalah kewajiban untuk menjaga lautan Indonesia yang luas. Padahal, Hari memaparkan, banyak sekali warisan budaya yang ditemukan di bawah air, baik yang utuh maupun rusak. “Untuk yang bernilai penting, pemerintah bisa tanggung, tapi yang jumlahnya banyak? Itu kan perlu biaya,” kata dia.

Pemerintah perlu pendanaan untuk pemeliharaan maupun pemetaan dan penemuan warisan budaya air. “Pengembangan teknologi menyelam juga mahal,” kata Hari. Maka pemerintah mempertimbangkan untuk tukar menukar barang dengan negara asal warisan budaya, seperti Cina.

Hari menguraikan, sejak digulirkan dari 2001, baru 31 negara yang meratifikasi dari 176 anggota UNESCO.

Direktur Peninggalan Arkeologi Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi membeberkan bahwa negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat justru enggan meratifikasi konvensi tersebut karena konsekuensinya. “Maka kini kami kaji terus dampaknya,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori