Oleh: arkeologibawahair | 5 Oktober 2010

Berbagai Kegiatan Peninggalan Bawah Air 2010


1. Kegiatan Inventarisasi Potensi Peninggalan Bawah Air

Artefak budaya peninggalan bawah air berupa perahu dan muatannya sering kali dianggap tinggalan budaya yang memiliki nilai tinggi, sehingga menjadi sasaran pencarian ilegal yang dilakukan dengan berbagai cara tanpa mengindahkan ketentuan dan prosedur yang berlaku. Kondisi seperti ini tentunya harus disikapi dengan arif dan responsif agar kelestariannya tetap terjaga. Mengingat banyak dari peninggalan bawah air tersebut memiliki nilai pengetahuan, sejarah dan kebudayaan, sehingga termasuk kriteria benda cagar budaya yang keberadaannya dilindungi oleh Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Oleh karena itu perlu upaya pelestarian yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan agar pengelolaan dapat dilakukan dengan tepat sesuai dengan karakteristik benda cagar budaya sebagai artefak yang bersifat tidak terbaharui, rentan, dan jumlahnya sangat terbatas.

Perairan Kepulauan Karimunjawa merupakan wilayah perairan yang memiliki nilai historis yang cukup tinggi. Dokumen menyatakan bahwa perairan ini telah menjadi salah satu jalur transportasi sejak zaman dahulu hingga sekarang. Hal tersebut terbukti dengan ditemukannya berbagai tinggalan budaya baik di darat maupun di dasar laut. Melalui kegiatan di bulan Maret 2010 tentang identifikasi potensi peninggalan bawah air di wilayah perairan kepulauan Balai Taman Nasional Krimunjawa dapat disusun data tentang potensi peninggalan bawah air sebagai rujukan dalam pengelolaannya.

Kegiatan identifikasi potensi peninggalan bawah air ini mencakup recording survey (termasuk predisturbance dan excavation survey) peninggalan bawah air di kepulauan Karimunjawa, dan perekaman data situs beserta lingkungannya.


2. Kegiatan Peningkatan Peran Serta Masyarakat terhadap Pelestarian Peninggalan Bawah Air

Indonesia merupakan satu di antara negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam dan budaya yang sangat beraneka ragam. Bermacam tinggalan budaya dari berbagai kurun waktu yang tidak ternilai harganya masih dapat ditemukan sampai sekarang ini. Hanya disayangkan bahwa perhatian pada tinggalan budaya tersebut pada umumnya masih terfokus pada peninggalan yang berada di darat. Sementara penelitian dan pendataan terhadap tinggalan yang berkaitan dengan peninggalan bawah air belum banyak dilakukan. Padahal sebenarnya tinggalan tersebut sangat potensial untuk dikembangkan dalam rangka kegiatan pariwisata.

Dalam rangka pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian benda cagar budaya khususnya tinggalan bawah air perlu diatur dengan baik dengan mengikutsertakan semua pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah. Keikutsertaan pemangku kepentingan ini dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unsur pemangku kepentingan tersebut.
Pengelolaan dan pemanfaatan tinggalan bawah air di Kepulauan Seribu yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun swasta, sebagian besar belum memenuhi kriteria pemanfaatan benda cagar budaya secara baik dan berkesinambungan.

Sekarang ini pengelolaan dan pemanfaatan peninggalan bawah air di Kepulauan Seribu masih menghadapi banyak permasalahan terutama yang berkaitan dengan koordinasi antar pemangku kepentingan baik yang berasal dari pihak pemerintah seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada di dalam naungan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan pihak swasta seperti pengelola home stay, transportasi antar pulau dan lembaga nonformal lainnya. Ditambah lagi, masih kurangnya kesadaran masyarakat yang bermukim di pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu terhadap pelestarian peninggalan bawah air.

Guna melestarikan peninggalan bawah air kepada masyarakat yang berada di Kepulauan Seribu secara umum dan di Pulau Pramuka dan sekitar secara khusus perlu dilakukan sosialisasi aturan-aturan yang mengatur tentang pelestarian peninggalan bawah air. Diperlukan peran serta dari berbagai pihak antara lain kalangan akademisi, pemerintah daerah dan pusat, pihak swasta dan masyarakat setempat serta pihak-pihak yang mempunyai kepentingan.

Untuk itu pada pertengahan April 2010 dilaksanakan kegiatan yang berupa seminar tentang Peningkatan Peran Serta Masyarakat Terhadap Pelestarian Peninggalan Bawah Air di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Selain seminar dilaksanakan juga kegiatan pameran sebagai kegiatan pendukung yang menampilkan benda-benda yang berhasil diangkat dari berbagai perairan di Indonesia.


3. Kegiatan Pengendalian dan Penanganan Kasus

Peninggalan bawah air merupakan peninggalan yang jumlahnya terbatas dan tidak terbaharui serta mempunyai sifat yang mudah rusak baik karena pengaruh alam maupun perbuatan manusia. Oleh karena itu, upaya perlindungan dan pengembangan pemanfaatannya harus dilakukan sesuai dengan peraturan, pedoman, standar, dan prinsip-prinsip pelestarian yang berlaku.

Selain itu, peninggalan bawah air memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga masyarakat sering kali melakukan eksplorasi dan eksploitasi secara berlebihan baik yang dilakukan secara legal maupun ilegal dan dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian peninggalan bawah air tersebut. Dengan demikian kegiatan pengelolaan peninggalan bawah air yang merupakan aset negara tersebut perlu dikendalikan dalam bentuk pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan eksplorasi (survei dan pengangkatan), pemeriksaan terhadap hasil eksplorasi (hasil pengangkatan dari bawah air), pengawasan dan pemeriksaan terhadap pemanfaatannya baik dalam rangka ilmu pengetahuan, kebudayaan maupun sebagai benda yang diperdagangkan.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Mei 2010 di Tuban. Ditujukan juga untuk melakukan penyelesaian kasus-kasus terhadap pelanggaran peraturan perundangan yang berkaitan dengan pengangkatan dan pemanfaatan peninggalan bawah air yang sering kali terjadi di beberapa lokasi di Indonesia, terutama di perairan Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka-Belitung, perairan Ambon, dan Perairan Manado.


4. Kegiatan Penyusunan Petunjuk Teknis Penanganan Peninggalan Bawah Air

Direktorat Peninggalan Bawah Air sesuai dengan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.17/HK.001/MKP-2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan penyiapan rumusan kebijakan standar, norma, kriteria dan prosedur serta bimbingan teknis dan evaluasi di bidang peninggalan bawah air. Mengingat banyaknya tugas yang harus dilaksanakan secara efektif, efisien dan berhasil guna, maka perlu didukung dengan suatu petunjuk teknis sebagai standar operasional prosedur (SOP) bagi instansi terkait maupun masyarakat dalam pengananan peninggalan bawah air.

Kegiatan penyusunan petunjuk teknis yang dilaksanakan pada bulan Juni 2010 di Bandung dan Yogyakarta bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM bidang penanganan peninggalan bawah air, sehingga dapat bekerja secara efektif, efisien, dan produktif.

Adapun petunjuk teknis penanganan peninggalan bawah air berisikan tentang berbagai hal yang mencakup berbagai aspek yaitu: perlindungan, survei arkeologi bawah air, ekskavasi, pemeliharaan, dokumentasi, dan publikasi, serta pengendalian dan pemanfaatan peninggalan bawah air.

Melalui buku petunjuk teknis ini dapat diperoleh kesamaan pemahaman mengenai langkah-langkah penanganan peninggalan bawah air di Indonesia dan dijadikan acuan bagi pihak-pihak terkait, baik di lingkungan Direktorat Peninggalan Bawah Air, unit pelaksana teknis (UPT) bidang kepurbakalaan, lembaga penelitian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi dan Balai-balai Arkeologi), perguruan tinggi yang menyelenggarakan kurikulum arkeologi bawah air dalam melakukan penanganan peninggalan bawah air di wilayah Indonesia.


5. Kegiatan Peningkatan Keterampilan dan Kemampuan SDM dalam Penanganan Peninggalan Bawah Air

Sumber daya manusia atau SDM merupakan salah satu komponen yang penting dalam sebuah lembaga. Untuk itu kompetensi SDM sangat menentukan keberhasilan lembaga dalam melaksanakan tugasnya. Direktorat Peninggalan Bawah Air sebagai lembaga yang bergerak di bidang pelestarian peninggalan bawah air secara bertahap dan berkesinambungan menyiapkan SDM yang berkualitas untuk melaksanakan pelestarian peninggalan bawah air.

Persiapan SDM tersebut dilakukan sejak tahun 2006 dalam bentuk kegiatan sertifikasi selam untuk tingkat A.1 dan A.2. Selanjutnya tahun 2008 dilakukan dalam bentuk kegiatan bimbingan teknis bidang fotografi bawah air. Demikian pula pada tahun 2009 dilakukan kegiatan peningkatan SDM bidang dokumentasi dengan metode foto mozaik dan identifikasi perahu.

Untuk menjaga kesinambungan kegiatan peningkatan kualitas SDM peninggalan bawah air, pada Juli 2010 dilakukan kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan selam. Kegiatan mengambil tempat di P. Pramuka, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, mencakup teori di kelas, praktek renang, merangkai alat dan latihan selam, ujian tertulis, praktek selam dan praktek perekaman data di laut.


6. Kegiatan Pengembangan dan Pemanfaatan Peninggalan Bawah Air

Peninggalan bawah air merupakan tinggalan budaya yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hal tersebut menarik minat masyarakat untuk mengeksplorasinya dengan harapan mendapatkan keuntungan yang besar. Untuk itu perlu regulasi dalam hal pengembangan pemanfaatan peninggalan bawah air agar eksistensinya tetap terjaga sekaligus dapat memberi nilai manfaat bagi masyarakat luas.

Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, khususnya pada pasal 19 disebutkan bahwa benda cagar budaya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Pada kenyataannya pemanfaatan yang terjadi di tengah masyarakat lingkupnya lebih luas dan kompleks, sehingga acapkali terjadi kesalahpahaman baik antarlembaga pemerintah, pemangku kepentingan, maupun masyarakat. Untuk itu aturan teknis dan kesepakatan dalam pemanfaatan peninggalan bawah air harus aplikatif dan tetap memprioritaskan kelestariaannya sebagai aset budaya bangsa yang tidak terbaharui.

Untuk mewujudkan implementasi dari peraturan tentang pelestarian benda cagar budaya bawah air maka pedoman dan silabus peninggalan bawah air harus disempurnakan. Kegiatan pengembangan dan pemanfaatan peninggalan bawah air dilaksanakan akhir Juli 2010 di Karimunjawa, mencakup survei potensi dan pembuatan rencana induk warisan cagar budaya bawah air.


7. Kegiatan Identifikasi dan Konservasi Hasil Pengangkatan Bawah Air

Peninggalan bawah air merupakan tinggalan budaya yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Peninggalan bawah air dapat berupa benda cagar budaya (terdiri dari berbagai jenis/fungsi antara lain mangkuk, piring, cepuk, hiasan emas, botol, dan lain-lain) dan situs. Sebagai aset yang penting dan potensial, keberadaannya harus dikelola dengan baik dan berkesinambungan dengan dilakukan konservasi.

Sejak 1980-an banyak kegiatan pengangkatan benda cagar budaya peninggalan bawah air yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Hasil pengangkatan tersebut sebagian besar berupa keramik dengan kondisi masih tertutup karang dan lumpur, serta mengandung kadar garam yang tinggi. Sebagian di antaranya dalam keadaan rusak diakibatkan oleh pengaruh alam maupun oleh kecerobohan dalam proses pengangkatan.

Untuk itu kegiatan konservasi pada bulan September 2010 dilakukan untuk memperlambat proses kerusakan, sehingga memudahkan untuk diidentifikasi dan direkonstruksi. Selanjutnya, pasca penanganan tersebut hasilnya dapat dipamerkan dan diapresiasi oleh masyarakat luas, baik untuk tujuan pendidikan maupun rekreasi.


8. Kegiatan Penyebarluasan Informasi Peninggalan Bawah Air

Peninggalan bawah air merupakan aset budaya yang penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Tidak hanya merupakan benda cagar budaya tetapi juga merupakan salah satu bukti puncak peradaban bahari di Nusantara. Untuk itu pelestarian peninggalan bawah air tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga Negara Indonesia. Di samping memiliki tanggung jawab dalam pelestarian, setiap warga juga memiliki hak untuk dapat mengetahui data dan beragam indormasi berkenaan dengan peninggalan bawah air, baik untuk tujuan pendidikan, sosial budaya, maupun rekreatif.

Dalam rangka meningkatkan apresiasi dan pemahaman masyarakat terhadap aset budaya berupa peninggalan bawah air, maka sosialisasi harus dilakukan secara terus-menerus, baik melalui media cetak, dialog, pameran, maupun media audio visual. Dampak positif sosialisasi, secara bertahap masyarakat dapat mengenal dan memahami rekaman budaya masa lalu yang tersirat dalam berbagai artefak peninggalan bawah air.

Pada Agustus 2010 kegiatan penyebarluasan informasi dilakukan di daerah Ambon, Madura, Lampung dan Jakarta. Bentuk kegiatan ini antara lain adalah pameran, pencetakan, pembuatan website dan penambahan referensi.


9. Kegiatan Peningkatan Keterampilan dan Kemampuan SDM Bimbingan Teknis Penanganan Peninggalan Bawah Air

Peninggalan bawah air, baik berupa kapal-kapal kuno maupun benda muatannya merupakan data yang penting bagi perkembangan sejarah dan ilmu pengetahuan, karena merupakan bukti tingkat peradaban masa lalu bangsa Indonesia. Sayangnya informasi yang ada dalam artefak-artefak tersebut belum sepenuhnya kita dapatkan, mengingat kondisi artefak yang ditemukan tidak semuanya utuh dan kondisinya sudah rusak. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh perbuatan manusia masa lalu maupun dampak dari kondisi alam selama ratusan tahun. Untuk memudahkan identifikasi dan analisa, maka perlu segera dilakukan konservasi, agar kondisinya minimal mendekati kondisi awal.

Saat ini tenaga teknis yang memiliki kemampuan untuk konservasi peninggalan bawah air masih sangat sedikit, sementara artefak peninggalan bawah air hasil pengangkatan sudah berjumlah ratusan ribu. Untuk itu Direktorat Peninggalan Bawah Air menyelenggarakan bimbingan teknis konservasi peninggalan bawah air bekerja sama dengan instansi-instansi yang menangani bidang konservasi agar artefak yang ada dapat segera ditangani. Bimbingan teknis tersebut telah dilaksanakan pada bulan November 2010 di Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, diikuti para peserta dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) dan Balai Arkeologi di Indonesia. Kegiatan bimbingan teknis yang dibuka langsung oleh Dirjen Sejarah dan Purbakala, Ibu Ir. Aurora F. Tambunan ini mencakup pameran, ceramah, diskusi, praktek di laboratorium, dan presentasi kelompok.


10. Kegiatan Persiapan Ekspedisi Jejak Peradaban Budaya Bawah Air

Menurut catatan sejarah, perairan Nusantara telah ramai dilalui dan dikunjungi perahu-perahu niaga dari berbagai penjuru dunia, di antaranya dari Asia Barat, Asia Selatan, Asia Timur, dan Eropa.

Padatnya jalur dan kegiatan perdagangan komoditi yang sangat berharga di wilayah Nusantara yang berlangsung selama sekitar seribu tahun telah menghasilkan sejumlah besar peninggalan arkeologi seperti galangan perahu, benteng pertahanan, (kota) pelabuhan, gudang penyimpanan, mercu suar, dan infrastruktur navigasi lainnya, serta tentu saja (ribuan) bangkai perahu (shipwrecks). Di samping itu, kegiatan maritim tersebut telah melahirkan nilai, norma, aturan, tradisi, adat – istiadat, serta kepercayaan yang bercirikan budaya maritim (maritime culture).

Peninggalan arkeologi tersebut merupakan dokumen penting bagi sejarah Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia, khususnya merupakan bukti peradaban bahari di wilayah Nusantara. Namun demikian hal ini masih sedikit sekali diketahui dan dipelajari, sehingga perlu upaya ekspedisi jejak peradaban bahari bawah air, untuk meningkatkan apresiasi dan pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai luhur yang telah dilahirkan orang-orang masa lalu melalui berbagai produk budayanya.

Pada tahun 2010, kegiatan ekspedisi ini masih dalam tahap persiapan, yang meliputi kegiatan rapat persiapan dan survei lokasi untuk tempat-tempat yang masuk dalam rute perjalanan kapal ekspedisi. Rapat persiapan ekspedisi jejak peradaban bawah air telah dilaksanakan pada bulan November 2010 di Bogor. Kemudian dilanjutkan dengan survei lokasi di Provinsi Bangka Belitung, Jambi, dan Surabaya untuk menentukan pelabuhan, tempat pembuatan kapal, maupun tempat singgah para peserta ekspedisi tersebut di tahun 2011.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori