Oleh: arkeologibawahair | 7 Oktober 2010

Bermitra dengan Media Massa untuk Sosialisasikan Warisan Budaya Bawah Air*

Oleh YURNALDI

Isu seksi sejak Mei 2010 lalu adalah soal warisan budaya bawah air (WBBA). Hampir semua media massa; baik media cetak maupun media elektronika (radio, televisi, dan online), gencar memberitakan temuan dan lelang benda muatan kapal tenggelam yang berasal dari Perairan Cirebon.

Dalam proposal Pameran dan Seminar Warisan Budaya Bawah Air disebutkan; “…Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kontroversi yang terjadi seputar lelang Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang berasal dari perairan Cirebon. Lelang tersebut menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat ditambah lagi dengan banyaknya pemberitaan di media. Juga karena disadari adanya ketidaktahuan masyarakat tentang kebijakan pengelolaan WWBA di Indonesia dan aspek hukum terkait di dalamnya.”

Benarkah karena banyaknya pemberitaan di media massa, menyebabkan lelang menjadi kontroversi? Sepertinya media massa menjadi pihak yang disalahkan. Ibarat seorang tersangka yang lansung divonis bersalah tanpa diadili.

Padahal, lelang yang digelar tanggal 5 Mei 2010 lalu tidak ada peminat karena memang tak ada penawaran. Bukan karena kontroversi pemberitaan. Jangan berharap tanduk ke kuda! Baca fakta sebagai berikut:

KOMPAS – Kamis, 06 May 2010 Halaman: 12 Penulis: che; egi; isw; nal; lkt; luk; ong; tht Ukuran: 4732 Foto: 1

PENDIRIAN MUSEUM DIKAJI
Tak Ada Peminat Lelang yang Hadir

Jakarta, Kompas
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menyatakan, pihaknya mempertimbangkan pembangunan museum maritim sebagai solusi untuk mempertahankan benda-benda peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan maritim Nusantara.

Demikian disampaikan Fadel dalam diskusi terbatas dengan Kompas, Rabu (5/5), seusai pelaksanaan lelang atas 271.381 keping artefak berumur lebih dari 1.000 tahun. Pelelangan koleksi benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT) dari perairan Cirebon itu berlangsung tanpa ada penjualan.

Ia mengakui, pembangunan museum maritim dan pengangkatan BMKT terganjal kemampuan keuangan negara. Untuk itu, konsep pembiayaan yang dikaji, antara lain, adalah skema pendanaan ke perbankan lewat fasilitasi Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Gagasan itu akan disampaikan dalam pertemuan dengan UNESCO, 10 Mei di Bali.

“Pembangunan museum budaya maritim sudah saatnya dipikirkan. Beri saya waktu untuk memikirkan itu secara matang,” ujar Fadel, yang juga menjabat Ketua Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan BMKT.

Opsi lain, yaitu mengumpulkan pengusaha-pengusaha China di Indonesia agar bersama-sama pemerintah melestarikan koleksi peninggalan sejarah maritim. Dukungan itu sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat pada budaya China di Indonesia.

Sementara, tambahnya, Museum Singapura mengusulkan kerja sama pariwisata jika ada museum bahari. Hasil tiket kunjungan museum dipakai untuk membayar pinjaman bank dan mengganti investasi perusahaan swasta yang mengangkat koleksi artefak bersejarah.

Seusai penutupan lelang, di hadapan publik, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik menyesalkan adanya kontroversi pelelangan harta karun Perairan Cirebon.

“Terima kasih kepada masyarakat yang peduli kebudayaan Indonesia. Ini pertanda begitu cinta. Ada yang keliru pemahamannya, mungkin karena kurang sosialisasi,” ujarnya. Menurut dia, benda di dalam kapal tidak ada kaitan dengan kebudayaan Indonesia karena sebagian besar keramik Tiongkok.

Saat lelang ditutup, Erwin Erlangga, yang mengaku alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, berteriak lantang menolak pelelangan. Dia langsung diamankan petugas.

Tentang lelang yang tak ada penawaran ini, Fadel akan melaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Empat menit

Lelang BMKT Balai Lelang Pemerintah Indonesia di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, berlangsung empat menit karena tak ada penawaran dari 20 calon peminat.

“Tidak ada yang menyetor uang jaminan 16 juta dollar AS sehingga tak ada penawaran. Lelang saya tutup,” kata Iraningsih, pejabat lelang. Obyek yang dilelang berupa satu lot artefak hasil pengangkatan sebanyak 271.381 potong senilai 80 juta dollar AS dengan 16 juta dollar AS uang penjaminan.

Kolektor barang seni dan pelestari budaya, Anhar Setijadibrata, menyesalkan adanya pelelangan, “Harta karun ini menunjukkan Nusantara amat penting bagi bangsa-bangsa besar dunia. Terbukti ini berasal dari Tiongkok, Persia, dan Arab,” ujarnya.

Sementara Fadel menegaskan, “Saya juga berpandangan jauh ke depan, tidak jangka pendek. Yang penting solusinya win-win untuk berbagai pihak,” ujarnya. “Cara transparan ini merupakan upaya menghilangkan perampokan BMKT,” katanya.

Beberapa tahun lalu, sejumlah pemburu harta karun mengangkat BMKT di perairan Indonesia tanpa mengikuti prosedur. Benda-benda itu dijual di luar negeri dan tidak didata sama sekali.

Menurut Anhar, artefak itu dapat dipamerkan di museum-museum besar dunia. “Bisa saja dipinjamkan ke Smithsonian dan lembaga besar lain. Itu bisa menghasilkan devisa,” katanya.

Direktur Operasional Cosmix Luc Heymans menyesalkan pelbagai hambatan dalam proses lelang. “Ini pertama kalinya di Indonesia penemuan harta karun diangkat dan dilelang sesuai prosedur hukum. Kami juga sudah mendata lengkap semua artefak. Museum Nasional Indonesia juga sudah mengambil lebih dari seribu artefak terbaik,” ujarnya. (CHE/EGI/ISW/NAL/LKT/LUK/ONG/THT)


Ibarat Cermin

Media massa itu, kalau disadari, hanya ibarat cermin. Ketika ada sesuatu persoalan dengan segala faktanya, maka oleh media massa itu pulalah yang dilaporkan ke pembacanya (publik). Ya, ibarat kaca, ia memantulkan bayangan subyek yang diterimanya.

Tidak akan pernah terjadi, ketika seseorang berdiri di depan kaca, maka bayangan yang muncul berubah menjadi seekor kuciang atau buaya.

Dalam konteks jurnalistik, ketika narasumber mengatakan A, tidak mungkin ditulis B oleh wartawan dalam laporannya. Kalau itu terjadi, narasumber boleh komplein. Gunakan hak jawab. Kalau hak jawab tidak dikasih tempat, silakan somasi. Bagi media massa, hal ini menyangkut kredibilitas dan profesionalitas. Wartawan bekerja ada etikanya. Ada kode etiknya.

Kalau dalam laporan ada pernyataan narasumber yang berkompeten pro dan kontra, itu fakta yang tak bisa dipungkiri. Tak bisa disurukkan. Realitas yang selalu ada, pertanda dinamika kehidupan berjalan normal.

Bisa jadi argumentasi masing-masing narasumber benar, atau sebaliknya, keliru, atau kurang cerdas, sehingga semua keputusan terpulang kepada pembaca. Media massa melalui wartawannya yang profesional, tak hendak menyimpulkan. Karena dalam sebuah laporan jurnalistik, tidak boleh ada opini wartawan. Kalau mau beropini, media massa dalam sikap dan pandangannya, ditulisakan dalam tajuk rencana atau editorial. Berikut tajuk di KOMPAS:
—————————————————————————————————————-
KOMPAS – Selasa, 04 May 2010 Halaman: 6 Penulis: – Ukuran: 3010

Tajuk Rencana
HARTA KARUN RP 720 MILIAR

Hari Rabu (5/5) menurut rencana dilelang harta karun senilai Rp 720 miliar. Menarik, terutama karena-lagi-lagi terbukti-kita berpikir pragmatis-praktis berdurasi pendek.

Harta yang dilelang adalah 271.381 keping benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam 1.000 tahun lalu di perairan Cirebon, Jawa Barat. Kapal yang belum diketahui namanya itu memuat keramik khusus milik Kerajaan Tiongkok.

UNESCO mempertanyakan rencana yang diduga melanggar Konvensi Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air itu. Dijawab Indonesia belum menandatangani konvensi. Jadi tak ada urusan dengan konvensi. Hasil lelang dibagi rata dengan perusahaan yang telah mengangkat harta itu dari dasar laut sejak Februari 2004 hingga Oktober 2005.

Dari sisi bisnis, argumentasi lelang harta karun itu wajar saja. Ada biaya kegiatan penyelaman. Mana ada usaha bisnis mau rugi. Eksplorasi harus menguntungkan. Bagi sama rata tentunya sudah masuk dalam pasal persetujuan bersama. Faktor di luar kalkulasi bisnis dikesampingkan. Lantas kepada siapa kita menyerukan harapan? Kepada pemerintah, partner bisnis dan pemilik, setidaknya sebelum ikut serta memaraf konvensi UNESCO. Jangan sampai kepentingan pragmatis-praktis-jangka pendek mengorbankan kepentingan lebih besar, katakan demi nation and character building,

Utopis? Tidak! Sebab masa lalu merupakan bagian integral yang bertali-temali dengan masa sekarang sekaligus proyek masa depan. Dalam ketiga entitas itu terletak pergulatan jatuh bangun, harapan dan keputusasaan, keberhasilan dan kegagalan, sebagai ajang belajar dan historisitas sebagai warga masyarakat manusia.

Belajar dan memanfaatkan masa lalu tak sekadar dari warisan intelektual bangsa, tetapi juga yang fisik dan nonfisik, di atas tanah, di bawah tanah, di bawah air.

Ikut sertanya UNESCO melestarikan berbagai warisan budaya seharusnya membuat kita risi. Risi sebagai warga dunia yang berpikir kerdil. Vandalisme berbagai warisan dunia, taruhlah perusakan candi, juga gampang “menduitkan” warisan nenek moyang, kita maklumi kalau didesak pilihan hidup atau mati. Kita geram ketika vandalisme dilakukan atas nama keserakahan nafsu bisnis.

Bagaimana dengan rencana lelang ini? Dengan mindset di atas, kita usul batalkan atau tunda! Harta karun itu sebagai bagian dari nation and character building tidak ternilai harganya. Kerugian partner usaha pemerintah perlu diganti. Untuk jangka panjang, segera paraf konvensi UNESCO, agar penanganan, pengamanan, dan pemanfaatannya juga menjadi tanggung jawab masyarakat dunia.

Kita buang sinisme sebagai bangsa yang bisa merusak dan “menduitkan” warisan nenek moyang! Ajakan “mengenal tanah air” mendapatkan ujian berat: seberapa jauh kita bisa membuat skala prioritas. Tidak ingin kita menimbunkan cemooh dunia sebagai bangsa yang tidak hanya tidak becus membangun, juga tidak becus melestarikan!

Atau bisa juga survei yang dilakukan peneliti dari bagian penelitian dan pengembangan sebuah media massa. Berikut kesimpulan survei jajak pendapat oleh Litbang KOMPAS:

KOMPAS – Minggu, 09 May 2010 Halaman: 23 Penulis: Suprapti, Endang Ukuran: 923

Barometer
HARTA KARUN

Harta karun yang berupa barang berharga, tampaknya lebih banyak memancing kontroversi. Bahkan, ketika penanganan harta karun itu dilakukan oleh pemerintah sekalipun, pro-kontra tidak berhenti. Ribuan item harta karun terdiri dari keramik, batu rubby, emas, serta logam berharga lainnya berhasil diambil dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon. Reaksi penolakan muncul saat
pemerintah berencana melelang artefak-artefak itu. Hasil jajak pendapat menunjukkan, sebagian besar publik tidak menyetujui pelelangan terhadap barang-barang bersejarah. Publik juga khawatir barang-barang peninggalan sejarah yang diperkirakan berumur 1.000 tahun lebih tersebut akan terpelihara dengan baik.(End/Litbang Kompas)

Jajak pendapat yang dilakukan KOMPAS, tersebut hasilnya menunjukkan, sebagian besar publik tidak menyetujui pelelangan terhadap barang-barang bersejarah. Publik juga khawatir barang-barang peninggalan sejarah yang diperkirakan berumur 1.000 tahun lebih tersebut akan terpelihara dengan baik.


Kepedulian Media

Warisan Budaya Bawah Air (WBBA), bukan sesuatu yang asing atau baru. Mungkin sebagai direktorat di direktorat jenderal sejarah dan purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, benar adanya. Akan tetapi, sebagai isu dan bahan berita yang menarik, sudah sejak lama, bahkan belum lahir saya, media massa sudah melaporkannya.

Saya sempatkan buka data di Pusat Informasi Kompas (PIK). Berita pertama di Kompas tentang WBBA atau harta karun, terbit di Kompas edisi hari Selasa, 24 Agustus 1965, halaman 2 berjudul “Pemburu Harta Karun”. Kemudian berselang lima bulan kemudian, terbit berita “Harta Karun Terpendam di Dasar Lautan” (Kompas, Selasa, 25 Januari 1966, halaman 1).

KOMPAS – Selasa, 25 Jan 1966 Halaman: 1 Penulis: – Ukuran: 395

Harta Karun Terpendam di Dasar Lautan

Pada Perang Dunia ke II jl. tidak sedikit djumlah kapal jang tenggelam kedasar laut Indonesia. Untuk pelabuhan Padang, Belawan, Semarang dan Tjilatjap sadja, menurut hasil penjelidikan Team Survey Djepang baru2 ini ditaksir ada 200 kerangka kapal. Besi2 tua itu merupakan harta karun jang besar nilainja. Demikian keterangan LetKol. Urip Santoso dalam suatu pembitjaraan dengan Kompas.

Dan sampai Minggu (1 Agustus 2008), ada 335 laporan jurnalistik (berita, feature, tajuk, dan foto) yang sudah dimuat di harian KOMPAS, yang 28 Juni lalu berusia 45 tahun. Hasil Pencarian Menemukan 333 data, menampilkan data ke 326 sampai 333.
Kata Kunci: Penulis:
Cari pada hasil:

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

326.
Kapal Karam: Harta Karun Rp 720 Miliar Dilelang Rabu Ini

Ribuan potong batu permata, rubi, emas, dan keramik Kerajaan Tiongkok, serta perkakas gelas Kerajaan Persia, senilai lebih kurang Rp 720 miliar, dilelang di Jakarta, Rabu (5/5). Harta karun tersebut ditemukan dari bangkai kapal berusia 1.000 tahun di perairan Cirebon, Jawa Barat.
KOMPAS – Senin, 3 May 2010 hlm: 1 (Lkt; ong) Foto: 1
327.
Artefak Akan Tetap Dilelang * Rangkaian Sejarah Maritim Bisa Terputus
Pemerintah akan tetap melelang sekitar 271.381 artefak berumur lebih dari 1.000 tahun dari muatan kapal tenggelam di perairan Cirebon, Rabu (5/5). Pemerintah berkeyakinan lelang itu untuk menjamin kepastian hukum dan tak ada aturan yang dilanggar. Sementara itu, sejumlah kalangan men
KOMPAS – Selasa, 4 May 2010 hlm: 1 (lkt; luk; ong; nal; wad; tht) Foto: 1
328.
Pojok: Harta usia 1.000 tahun senilai Rp 720 miliar akan dilelang; Tarif listrik naik 10 persen mulai 1 Juli 2010; Indonesia sedang defisit perwira kelautan; Mari Elka Pangestu dikerubuti pengusaha China.
POJOK Harta usia 1.000 tahun senilai Rp 720 miliar akan dilelang. Kurang lebih segitu harga diri bangsa ini! * Tarif listrik naik 10 persen mulai 1 Juli 2010. Repotnya BUMN yang sedang krisis proyek! * Indonesia sedang defisi
KOMPAS – Selasa, 4 May 2010 hlm: 6 (-)
329.
Tajuk Rencana: Harta Karun Rp 720 Miliar
Tajuk Rencana HARTA KARUN RP 720 MILIAR Hari Rabu (5/5) menurut rencana dilelang harta karun senilai Rp 720 miliar. Menarik, terutama karena-lagi-lagi terbukti-kita berpikir pragmatis-praktis berdurasi pendek. Harta yang dilelang ad
KOMPAS – Selasa, 4 May 2010 hlm: 6 (-)
330.
Karikatur: Lelang Harta Karun
Karikatur LELANG HARTA KARUN Dilelang Dilelang OOO Jadi Segitu Harganya?…
KOMPAS – Rabu, 5 May 2010 hlm: 6 (Jitet)
331.
Pendirian Museum Dikaji * Tak Ada Peminat Lelang yang Hadir
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menyatakan, pihaknya mempertimbangkan pembangunan museum maritim sebagai solusi untuk mempertahankan benda-benda peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan maritim Nusantara. Demikian disampaikan Fadel dalam diskusi terbatas dengan
KOMPAS – Kamis, 6 May 2010 hlm: 12 (che; egi; isw; nal; lkt; luk; ong; tht) Foto: 1
332.
Barometer: Harta Karun
Barometer HARTA KARUN Harta karun yang berupa barang berharga, tampaknya lebih banyak memancing kontroversi. Bahkan, ketika penanganan harta karun itu dilakukan oleh pemerintah sekalipun, pro-kontra tidak berhenti. Ribuan item harta karun ter
KOMPAS – Minggu, 9 May 2010 hlm: 23 (Suprapti, Endang)
333.
Arkeologi : Mengidentifikasi Umur Keramik
Arkeologi MENGIDENTIFIKASI UMUR KERAMIK Oleh Yurnaldi Berbagai laporan dan dokumentasi kuno menyebutkan, di perairan Indonesia terdapat puluhan ribu kapal tenggelam. Kapal-kapal karam beserta muatan berharganya,
KOMPAS – Kamis, 20 May 2010 hlm: 14 (Yurnaldi) Foto: 1

Ketika saya unduh http://www.google.com (Minggu, 1 Agustus 2010) dengan kata kunci “ Harta Karun”, ada sekitar 467.000 hasil yang bisa kita baca.
Kalau kata kuncinya “Warisan Budaya Bawah Air”, maka di http://www.google.com ditemukan sekitar 186.000 hasil. Tulisan di barisan pertama, ternyata laporan saya yang berjudul “Tinggi, Warisan Budaya Bawah Air” (www.kompas.com, 2 Juni 2010). Ada juga tulisan saya lainnya, berjudul “Jalan Panjang Warisan Bawah Air”, (laporan saya di kompas.com, 3 Juni 2010, yang dikutip http://www.melatuonline.com) .
—————————————————————————————————————————————————————
Sekitar 185,000 hasil (0.29 detik)
Hasil Telusur
1. Tinggi, Warisan Budaya Bawah Air – KOMPAS.com
2 Jun 2010 … Menurut catatan Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati, Badan Riset Kelautan, diperkirakan ada sekitar 463 situs yang berupa …
travel.kompas.com/read/…/Tinggi..Warisan.Budaya.Bawah.Air – Tembolok
2. Keaslian Dan Keterpaduan Dalam Pengelolaan Warisan Budaya Bawah Air
Permasalahan keaslian dan keterpaduan dalam konteks pelestarian warisan budaya, terutama dalam kerangka teori arkeologi merupakan hal yang sangat menarik …
http://www.scribd.com › School Work › Homework – Tembolok – Mirip
3. ILMU ARKEOLOGI: Pameran Warisan Budaya Bawah Air
Pameran Warisan Budaya Bawah Air. Views. Diposkan oleh DJULIANTO SUSANTIO di 10:40 …. Silakan Copy & Paste kode di bawah untuk blog Anda. …
djuliantosusantio.blogspot.com/…/pameran-warisan-budaya-bawah-air.html – Tembolok
4. Pertemuan Konsultatif bahan Rekomendasi untuk Pengelolaan Warisan …
21 Apr 2010 … Pertemuan Konsultatif bahan Rekomendasi untuk Pengelolaan Warisan Budaya Bawah Air. Direktur Peninggalan Bawah Air, Ditjen Sejarah dan …
hurahura.wordpress.com/…/pertemuan-konsultatif-bahan-rekomendasi-untuk-pengelolaan-warisan-budaya-bawah-air/ – Tembolok
5. Jalan Panjang Warisan Bawah Air | Melayu Online
Sebab, warisan budaya bawah air bukan harta karun melainkan warisan budaya untuk kemanusiaan. Perusahaan-perusahaan komersial seringkali tidak melakukan …
melayuonline.com/ind/news/…/jalan-panjang-warisan-bawah-air
————————————————————————————————————–
Kalau kita cermati data di Kompas (www.kompas.com) dan di http://www.google.com , ternyata persoalan harta karun atau warisan budaya bawah air ini, sudah menjadi pemberitaan atau laporan media massa yang menarik.


Lantas peran apa lagi yang mesti diharapkan dari media massa?
Jurnalistik WBBA

Seminar ini meminta saya membicarakan “Peran Media dalam Pendidikan Masyarakat Melalui Pemberitaan tentang WBBA”. Alasan judul ini karena; “…Adanya ketidaktahuan masyarakat tentang kebijakan pengelolaan WBBA di Indonesia dan aspek hukum terkait lainnya.”

Saya memberi judul makalah saya “Bermitra dengan Media Massa untuk Sosialisasikan Warisan Budaya Bawah Air. Artinya, bagaimana bekerjasama dengan media massa untuk meng-advokasi kepada masyarakat tentang warisan budaya bawah air.

Salah satu strategi yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana menumbuhkembangkan jurnalistik warisan budaya bawah air (WBBA) itu. Untuk ini, ingat saja ungkapan: tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta.

Mungkin saja, sikap kontroversi di kalangan masyarakat, karena kebijakan yang ada selama ini dan aspek hukum terkait lainnya kurang tersosialisasi. Dalam hal ini, pihak media massa jangan sekali-kali disalahkan. Yang perlu dipertanyakan, sudah sejauh mana pihak Direktorat Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, melakukan sosialisasi kepada media massa? Adakah dalam hal ini bermitra dengan media massa?

Kalau belum, perlu segera dipikirkan. Kalau sudah pernah ada, mungkin tinggal bagaimana meningkatkannya dan berkesinambungan. Atau digelar secara berkala, sehingga wartawan mendapat pencerahan, bagaimana jurnalistik WBBA itu. Pelatihan dan pengetahuan bagi wartawan perlu dan penting agar ada pandangan dan laporan yang benar soal WBBA. Sehingga dengan demikian, kecil kemungkinan wartawan melakukan kekeliruan dalam pelaporannya.

Melalui laporan wartawan yang benar tadi, masyarakat pembaca bisa menjadi tahu, paham, dan mengerti, dan tentu saja, memaklumi kebijakan pemerintah. Atau, ada kemungkinan baru, masyarakat pembaca mengkitisi kebijakan pemerintah, sehingga melalui laporan wartawan, ada masukan untuk perubahan yang lebih baik.

Karena itu, menurut hemat saya, perlu dirumuskan jurnalistik WBBA itu seperti apa, apa yang diinginkan pemerintah? Apa yang seharusnya diketahui oleh publik. Bagaimana seharusnya wartawan melakukan pelaporan di bidang WBBA?

Yang perlu diingat, di media massa seperti KOMPAS, minimal sekali dua tahun, ada perputaran wartawan yang bertugas di suatu desk. Seandainya saya kini –salah satunya, concern dengan masalah WBBA, maka tahun depan atau dua tahun ke depan, posisi saya mungkin saja digantikan teman dari desk lain, yang tentu baginya, soal WBBA, barang baru. Liputan baru, yang mulai dari nol.

Karena itu, pihak-pihak yang terkait dengan WBBA dan juga kalangan perguruan tinggi, jangan bosan-bosan mengundang wartawan mengikuti pelatihan jurnalistik WBBA. Selain memberikan pengetahuan dan wawasan lain soal WBBA, mungkin melatih wartawan bisa menyelam, hingga bisa dapatkan sertifikat. Kalau sertifikat mereka kantungi, bukan tidak mungkin, dari dalam lautan samudera wartawan atau fotografer akan melaporkan langsung.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah, bagaimana media massa bisa secara rutin mendapatkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan WBBA, sehingga kalau diekspose, publik pembaca akan menjadi tahu dan mungkin juga bisa menjaga dan melestarikan WBBA tersebut.

Kalau tidak sempat menggelar jumpas pers, misalnya, pihak Direktorat Peninggalan Bawah Air, Ditjen Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, bisa membuat siaran pers. Bagaimana membuat siaran pers yang layak, ini perlu sesi tersendiri.

Atau bisa saja si peneliti menuliskannya dalam bentuk opini dan atau laporan untuk media massa tertentu. Bagaimana menuliskan laporan yang layak muat di media massa ini, itu bisa satu sesi yang amat berguna bagi peneliti atau penulis. Calon-calon penulis WBBA perlu diberi pencerahan bagaimana menulis untuk media massa.


Lomba Karya Jurnalistik

Sebenarnya ada strategi murah-meriah dan berdampak luar biasa untuk menyosialisasikan kebijakan-kebijakan dan pandangan tentang WBBA, yaitu mengadakan Lomba Karya Jurnalistik WBBA. Minimal, sekali tahun ada anggaran yang bisa disisihkan untuk kegiatan ini.

Kenapa Lomba Karya Jurnalistik? Sebagaimana kita ketahui, industri media terus mengalami evolusi seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Sifat dan jenis industri media makin beragam, seperti media cetak, radio, televisi, media online, dan yang terbaru adalah media mobile. Media online sendiri makin realtime, interaktif, dan beralih ke media personal (bloq atau citizen journalism).

Data Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, jumlah media cetak di Indonesia hingga tahun 2008 mencapai 1.008 dengan total tiras kurang lebih 19 juta eksemplar. Dari jumlah sebanyak itu, 71 persen di antaranya beredar di Jakarta dan sisanya, 29 persen beredar di luar Jakarta.

Apa artinya ini? Kalau ada Lomba Karya Jurnalistik WWBI, maka minimal setiap media massa ada satu tulisan soal WBBI. Maka, akan ada 1.008 tulisan/laporan jurnalistik yang akan dibaca puluhan juta pembaca. Kalau ada dua tulisan yang diikutsertakan oleh masing-masing media, maka akan muncul tahun itu sebanyak 2.008 tulisan tentang WBBA. Artinya, setiap hari akan ada 2-3 karya jurnalistik terbit di media massa. Sebuah sosialisasi yang luar biasa dan tentu tidak bayar.

Lomba digelar, misalnya tiga bulan sebelum tahun berakhir. Misalnya, Lomba Karya Jurnalistik WBBA Tahun 2010, dibuka atau diumumkan bukan Oktober 2010 dan dibuka akhir November 2010. Tulisan yang boleh dilombakan yang dimuat sejak awal Januari sampai akhir November 2010. Nanti pemenangnya diumumnya akhir Desember 2010, dengan hadiah yang menarik, misalnya Rp15 juta untuk pemenang pertama, Rp10 juta pemenang kedua, dan Rp5 juta untuk pemenang ketika. Tiga pemenang harapan masing-masing dapat hadiah Rp3 juta, Rp2 juta, dan Rp1 juta. Tulisan pemenang pun bisa dibukukan, sehingga ia bisa berjejak panjang, jadi referensi dan pengetahuan bagi publik.

Untuk program sadar wisata melalui Lomba Foto, ada Lomba Foto Sadar Wisata tiap tahun yang digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dengan hadiah puluhan juta rupiah. Masak untuk Warisan Budaya Bawah Air tidak bisa digelar acara Lomba Karya Jurnalistik yang rutin dan berdampak luas. Apa WBBA bukan menjadi bagian dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata?

Apalagi WBBA juga menjadi tanggung jawab Kemeterian Kelautan dan Perikanan, bahkan juga terkait dengan Menteri Keuangan. Sehingga ketiga kementerian ini bisa bekerjasama menggelar lomba dengan menyediakan hadiah yang relatif besar.

Daripada pasang iklan dengan tarif sekitar Rp150-250 juta per setengah halaman koran untuk sekali terbit, lebih baik digelar lomba dengan total hadiah sebanyak itu, yang bisa menghasilkan ribuan tulisan di banyak media.

Ini sebuah ide. Kalau masuk akal, ya rancanglah Lomba Karya Jurnalistik WBBA mulai dari sekarang .
(Jakarta, 2 Agustus 2010)
============
Sekilas info:
Yurnaldi, sarjana pendidikan kimia IKIP Padang. Baru menekuni karir jurnalistik selama 25 tahun. Selain jadi wartawan, juga dikenal sebagai narasumber untuk pelatihan junalistik dan menulis untuk media massa, serta konsultan media massa. Juga narasumber dan pemakalah untuk sejumlah bidang lainnya.Telah melatih ribuan calon wartawan, wartawan, mahasiswa, siswa, dan staf kehumasan. Telah menulis banyak buku, sejak jadi mahasiswa. Di bidang jurnalistik seperti Kiat Praktis Jurnalistik, Jurnalistik Siap Pakai, Menjadi Wartawan Hebat, dan Menjadi Jurnalis dan Kaya dengan Foto, yang sampai sekarang masih jadi referensi di berbagai perguruan tinggi. Di KOMPAS sendiri, ada wartawan KOMPAS yang termotivasi jadi wartawan karena membaca buku-buku Yurnaldi .

Telah meraih sejumlah prestasi sejak mahasiswa, baik dalam karya ilmiah, karya jurnalistik, maupun jadi mahasiswa berprestasi. Terakhir, Desember 2009, juara pertama Lomba Menulis Artikel Lingkungan antarjurnalis.

Selain dikenal sebagai wartawan, juga dikenal sebagai penulis/editor buku, penyair nasional, fotografer, pelukis, yang juga dengan sejumlah prestasi nasional. Telah bertugas di hampir seluruh kota di Indonesia, dari Sabang sampai Papua. Dan juga ke mencanegara, antara lain Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Singapura, Malaysia, Thailand, Inggris, Jepang, dan Australia.

Bisa kontak ke email: nalkompas@yahoo.com, atau Hp 08121015276, blog: http://www.wartawanhebat.bloqspot.com.

*Makalah untuk Seminar Warisan Budaya Bawah Air dengan Tema “Warisan Budaya Bawah Air, Apakah Harus Dilelang?, digelar atas kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Universitas Indonesia, dan Sekretariat Panitia Nasional BMKT, di Museum Nasional, Jakarta, 4 Agustus 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: