Oleh: arkeologibawahair | 14 Oktober 2010

Situs Bawah Laut Menguntungkan Tanpa Dijual

Erabaru.net, Kamis, 5 Agustus 2010 – “Situs arkeologi berupa kapal dan muatannya yang tenggelam pada masa lalu dapat dimanfaatkan secara menguntungkan tanpa harus menjual atau melelang benda-benda purbakala tersebut,” kata kepala unit budaya Kantor UNESCO Jakarta.

Pada makalah untuk seminar dan pameran Arkeologi Bawah Air yang berlangsung di Museum Nasional Jakarta, 4-15 Agustus, Masanori Nagaoka, pejabat UNESCO tersebut, menyatakan, sejumlah negara memanfaatkan situs bawah air sebagai daerah tujuan wisata.

Seperti siaran Departemen Arkeologi UI selaku penyenggara seminar, Kamis (5/8), Masanori dalam makalahnya memberikan sejumlah contoh negara-negara yang memanfaatkan situs bawah air menjadi daerah tujuan wisata dan memperoleh pemasukan yang cukup besar dari sektor pariwisata.

Situs bawah air yang dimanfaatkan untuk tujuan wisata, antara laian Museum Air Alexandria di Mesir.

Selain itu pelestarian situs arkeologi bawah air secara “in-situ” atau dengan tidak mengangkatnya ke darat juga dapat dilihat di Casaera (Israel), Kronprins Gustav Adolf (Finlandia) dan Ustica (Italia).

Contoh terbaik lainnya adalah yang dilakukan Turki yang mendirikan museum arkeologi bawah air Bodrum.

Di museum tersebut dipamerkan benda-benda berharga dari kapal yang pernah melewati perairan Anatolia.

Saat ini museum tersebut sudah dikunjungi lebih dari 60 juta orang.

Kapal dan muatannya yang tenggelam di masa lalu, dalam pengertian UNESCO termasuk dalam warisan budaya bawah air yang perlu dilindungi.

Dalam Konvensi UNESCO tahun 2001 tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air, disebutkan empat prinsip yakni kewajiban untuk melestarikan warisan budaya bawah air, pelestarian in-situ sebagai pilihan utama, tidak ada eksploitasi komersial dan pelatihan dan berbagi informasi, kata Nagaoka dalam makalahnya.

Sejauh ini konvensi tersebut juga diratifikasi oleh 31 negara.

Indonesia hingga saat ini belum meratifikasi konvensi tersebut, meskipun sempat mendapat desakan dari UNESCO, terutama sejak dilakukannya lelang ratusan ribu artefak berusia lebih dari 1000 tahun yang ditemukan di perairan Cirebon.

Seperti yang dikemukakan Dirjen Sejarah dan Purbakala Kemenbudpar Hari Untoro Dradjat, Indonesia belum perlu meratifikasi konvensi UNESCO tentang perlindungan benda cagar budaya bawah air karena banyak faktor yang perlu dipertimbangkan.

Di antaranya adalah luasnya wilayah perairan, sangat banyaknya artefak, keterbatasan kemampuan pemerintah dalam menangani situs bawah air dan masih diperlukannya dana untuk kesejahteraan rakyat, termasuk untuk melestarikan warisan budaya bangsa.(ant/waa)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori