Oleh: arkeologibawahair | 20 Oktober 2010

Hatcher, Si Pemburu Harta Karun Laut

Memamerkan temuan hasil curian

Nama Michael Hatcher memang tidak banyak dikenal oleh masyarakat awam. Namun setiap arkeolog pasti pernah mendengar nama ini. Sejak 1980-an Hatcher banyak mengeruki harta karun laut dari perairan Indonesia. Ditaksir benda-benda kuno dari dalam laut itu bernilai triliunan rupiah. Diketahui Hatcher lahir di Inggris tapi kemudian menjadi warga negara Australia.

Sebagai pemburu harta karun, Hatcher banyak mendapatkan benda berharga yang penting bagi ilmu pengetahuan. Pada 1985 dia berhasil mengangkat 126 batang emas lantakan, versi lain menyebut 225 batang. Belum lagi 160 ribu potong keramik antik peninggalan dinasti Ming dan Qing. Harta karun itu berasal dari kapal dagang VOC, De Geldermalsen, yang karam pada 1750 di perairan Riau. Kemudian barang-barang jarahan itu dilego di Balai Lelang Christie, Amsterdam. Ketika itu lelang menghasilkan 15 juta dolar atau setara dengan Rp 16,6 miliar.

Penemuan itu membuat nama Hatcher beken. Sebab, pemerintah Indonesia dan Belanda terlibat saling adu klaim. Indonesia merasa berhak mendapat separo dari harta karun itu karena posisi kapal karam berada di perairannya.

Namun Belanda yang ada di belakang Hatcher, mengaku lebih berhak mewarisi kapal De Geldermalsen dan bersikeras lokasi karam kapal itu berada di zona internasional. Untuk mengelabui tuntutan Indonesia, muatan Geldermalsen pun ‘disulap’ namanya menjadi Nanking Cargo. Karena Indonesia kurang bukti untuk mempertahankan argumennya, akhirnya Indonesia tidak mendapat satu sen pun.

Gara-gara kecolongan itulah, pemerintah membentuk Panitia Nasional Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Pannas BMKT) pada 1989. Panitia Nasional bertugas memberikan rekomendasi mengenai izin pengangkatan dan pemanfaatan benda-benda berharga kepada investor yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Perampok

Meski telah melukai hati pemerintah Indonesia, namun Hatcher tetap saja bisa merambah kekayaan di bawah laut. Pada 1999 Hatcher menyewa beberapa ahli arkeologi internasional untuk mempelajari arsip-arsip VOC. Secara kebetulan dia menemukan catatan tentang kapal Tek Sing yang tenggelam pada 1822 di Laut China Selatan, wilayah Indonesia.

Bersiap-siap menyelam di perairan Indonesia

Karena tragedi kapal Tek Sing lebih banyak memakan korban jiwa dibandingkan tenggelamnya kapal Titanic, maka kapal itu lantas dikenal sebagai ‘Oriental Titanic’. Kapal sepanjang 50 meter dan lebar 10 meter itu, tenggelam ketika mengangkut ribuan ton barang yang terdiri atas lebih dari sejuta porselen berkualitas tinggi buatan Jingdezhen. Selain itu juga ditemukan porselen buatan masa kekaisaran Kangxi (1662-1722).

Temuan hampir sejuta porselen sangat mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi ketika Hatcher memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan sekitar 600.000 porselen. Jadi hanya sekitar 365.000 yang dipertahankan. Hal itu dilakukannya demi meraup banyak untung. Sebab, makin langka barang makin tinggi harganya. Dalam sembilan hari pelelangan, Hatcher meraup uang sebesar 30 juta dolar atau sekitar Rp 500 Miliar. Ironisnya, pengangkatan kapal Tek Sing di perairan Bangka itu, menggunakan dokumen palsu. Memang kita masih cukup beruntung karena beberapa potong keramik, kini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta.

Hatcher juga diketahui terlihat di perairan Blanakan, Kabupaten Cirebon, April 2010. Diduga dia sedang mengincar keramik peninggalan dinasti Ming. Jika sukses hal ini akan menjadi rekor sepanjang kariernya. Soalnya adalah harga ekonomis harta karun itu ditaksir mencapai 200 juta dolar.

Kiprah Hatcher melakukan perburuan muatan kapal karam dimulai tahun 1970 dengan sebuah yacht tua yang direnovasi. Awalnya dia mencari barang-barang peninggalan Perang Dunia II, seperti timah, karet, dan besi bekas. Setelah menemukan harta karun di kapal tua yang tenggelam, dia lalu banting setir. Pekerjaan itu terus dilakoninya hingga sekarang.

Sebelum di Indonesia, pada 1981 dia berhasil mengangkat isi kapal tenggelam di Malaysia. Di dunia internasional dia dijuluki ‘Raja Penyelamat Kapal Karam’.

Ternyata sosok kontroversial Hatcher tak hanya tenar di Indonesia. Dia juga pernah dimusuhi pemerintah China. Bahkan, bagi dunia arkeologi bawah laut China, nama Hatcher berarti bencana.

Seperti dimuat laman berita China.org.cn, perseteruan Hatcher dengan China dimulai ketika dia menemukan kapal Geldermalsen di perairan Indonesia pada 1985.

Menurut China, seharusnya pemerintahnya memperoleh bagian karena sebagian besar muatannya berasal dari Guangdong. Namun seperti halnya pemerintah Indonesia, pemerintah China tak punya daya untuk mengambil kembali harta nenek moyangnya itu.

Setelah tragedi Geldermalsen, pemerintah China membentuk tim arkeologi untuk melacak dan menyelamatkan harta karun, sebelum keduluan para pemburu harta seperti Hatcher. “Meski tujuan kami sama, yakni untuk menemukan harta karun, ada perbedaan esensial antara arkeolog dan pemburu harta. Arkeolog menemukan untuk menjaga harta itu, sementara pemburu harta berusaha mencari keuntungan sebesar mungkin,” kata Direktur Pusat Arkeologi Bawah Laut China, Zhang Wei.


Beking

Mengganti plat nomor mobil

Kemungkinan besar ulah Hatcher mendapat beking dari pejabat-pejabat Indonesia. Dia diketahui sering berkeliaran di wilayah Indonesia dengan aman-aman saja. Bahkan dengan dukungan oknum-oknum tertentu, dia hampir selalu menggunakan mobil berplat nomor TNI.

Beberapa tahun lalu sejumlah pejabat yang menghalangi kerja sindikat Hatcher pernah tergusur. Ini antara lain dialami Syafri Burhanudin, Direktur Riset dan Eksplorasi Sumber Daya Nonhayati Laut, Departemen Perikanan dan Kelautan (tempointeraktif.com, 2004). Dua jabatannya sekaligus dicopot, yakni sebagai Direktur dan Ketua Tim Teknis Pannas BMKT.

Kesalahan ahli kelautan dari Universitas Hasanuddin Makassar itu, menurut bisik-bisik di Departemen Perikanan dan Kelautan, adalah karena menghalangi pengangkatan bangkai kapal yang tampaknya didukung sejumlah mantan petinggi tentara. Para mantan petinggi ini, masih menurut tempointeraktif.com, satu angkatan dengan salah seorang menteri yang berasal dari Angkatan Laut. Sikap keras Syafri didasarkan atas sikap perusahaan investor yang ketika itu menggaet Hatcher. Padahal Hatcher diketahui sudah beberapa kali “menipu” pemerintah Indonesia.

Keramik-keramik hasil jarahan dari perairan Indonesia

Sejak akhir April 2010 lalu Hatcher resmi dicekal dan masih terus diburu sampai sekarang. “Kita sudah lakukan pencekalan. Itu kan salah satu antisipasi kita,” ujar Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi dalam konferensi persnya. Menurut Ito, Polri memang belum berhasil mengetahui keberadaan Hatcher. Namun, sejumlah tim polisi air sudah melacak jejak aktivitas Hatcher.

Kita lihat apakah Hatcher masih terus berkiprah atau tidak. Jangan sampai kita kecolongan lagi untuk kesekian kalinya. (dari berbagai sumber)

(foto-foto: internet)

Iklan

Responses

  1. ” Dasar Bule Si Hetcher … Itu Maling Namanya Kurang Ajar Cari harta karun Di Negri orang ….!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori