Oleh: arkeologibawahair | 5 November 2010

Balada Lelang Lima Menit

Tempointeraktif.com, 24 Mei 2010 – Karena tak ada penawar, lelang saya nyatakan ditutup.” Tok, tok, tok! Palu diketuk keras oleh pejabat lelang Iraningsih.

Itulah antiklimaks suasana lelang harta karun abad ke-10 dari perairan Laut Jawa di wilayah Cirebon. Lelang di ballroom Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 5 Mei lalu itu hanya berlangsung lima menit.

Lelang itu sama sekali tak dihadiri kolektor keramik. Kursi calon pembeli kosong. Kebanyakan hanya wartawan yang datang. “You see,” kata Luc Heymans seraya tersenyum kecut. Pria asal Belgia ini adalah Direktur Cosmix Underwater Research Ltd., perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk mengangkat barang-barang kapal karam Cirebon itu.

Adi Agung, Direktur Utama PT Paradigma Putra Sejahtera, yang menjadi mitra Cosmix, masih berusaha menghibur diri. “Meski gagal, saya bangga karena telah menempuh cara yang legal. Saya masih optimistis lelang kedua, dan ketiga, ada pembeli. Dan harganya tak turun.”

Tapi harapan Adi itu mungkin tinggal harapan. Minggu ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan kebudayaan, UNESCO, menyatakan pemerintah akhirnya membatalkan penjualan artefak itu. Kemungkinan besar tak ada lagi lelang jilid kedua, apalagi ketiga. “Profit tidak lagi menjadi tujuan utama kita,” kata Fadel, yang sebelumnya menggebu-gebu soal lelang.

l l l

Perubahan sikap Fadel itu membingungkan Adi Agung. “Lelang ini saya tunggu lebih dari enam tahun,” kata lelaki yang selalu berpenampilan klimis itu. Lelang harta Cirebon, menurut dia, adalah peristiwa bersejarah. Pemerintah berani membuat keputusan penting untuk menertibkan penjarahan benda-benda kapal karam di perairan Indonesia yang marak.

Selama ini, menurut Adi, pengangkatan harta karun adalah bisnis yang kejam. “Tidak ada peraturan tegas. Wilayahnya abu-abu,” kata lelaki yang sehari-hari berbisnis penyewaan kapal itu. Banyak pemain melakukan pengangkatan tanpa izin atau dengan izin palsu. “Semua memiliki beking masing-masing.” Akibatnya, pemerintah sering kecolongan. Penyelam kawakan Michael Hatcher, misalnya, mampu menggondol emas lantakan bangkai kapal Geldermalsen di perairan Heluputan, Tanjung Pinang, Riau. Juga pemburu lain seperti Tilman Walterfang, yang membawa harta dari kapal karam Dinasti Tang di perairan batu Hitam, Belitung Timur.

Kita ingat, “hitamnya dunia kapal karam” itu juga pernah memakan korban arkeolog muda Indonesia, Santoso Pribadi. Pada Agustus 1986, Santoso yang akrab dipanggil Ucok itu menjadi bagian tim peneliti penyelam yang dibentuk negara untuk menyurvei perairan Heluputan, Riau. Tim ini dibentuk setelah kasus Hatcher mencuat. Lulusan Arkeologi Universitas Indonesia ini menyelam. Ia menemukan keramik, lalu menyelam lagi, tapi tak muncul-muncul. Ada spekulasi ia dibunuh.

“Maka lelang itu perlu, karena lelang tempat menjual artefak yang diangkat dengan jalur resmi. Di luar lelang berarti melanggar hukum,” kata Adi Agung.

Adi menjelaskan, titik Cirebon diperolehnya dari nelayan pada 2003. “Titik itu sesungguhnya sudah diketahui nelayan sejak 2001. Saya tidak mengingkari ada kemungkinan nelayan awalnya sudah mengambil secara ilegal,” katanya. Dia memperoleh izin pengangkatan dari Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam pada 2003. Sekitar 30 penyelam asing dan lokal dilibatkannya dari akhir April 2004 hingga awal Oktober 2005.

Proses sempat tersendat karena Adi dilaporkan mempekerjakan tenaga asing. “Itu komplain kompetitor,” katanya. Adi kemudian bisa membuktikan tak menabrak aturan hukum. Adi menjamin pengangkatan yang ia lakukan berlangsung ilmiah dan sesuai dengan prosedur. “Di kapal, semua temuan diberi label (tanggal diangkat dan grid lokasi). Kemudian, saat harta karun dibawa dari Cirebon ke Jakarta, dikawal anggota TNI Angkatan Laut dan pengawas dari pemerintah.”

Harta itu disimpannya di area pacuan kuda Pamulang, Tangerang, milik Letnan Jenderal Suharjono. Sebanyak enam bangunan kandang kuda yang disewanya US$ 15 ribu setahun ia sulap menjadi ruangan penyimpanan. Di sana dilakukan proses desalinasi. Seluruh artefak direndam di kolam-kolam buatan. Setelah kadar garamnya dinyatakan nol, dilakukan klasifikasi melibatkan pakar keramik konsultan pemerintah, arkeolog Profesor Naniek Harkatiningsih.

Harta dari kapal karam yang diduga dibawa kapal Sriwijaya itu beraneka ragam. Ada ribuan keramik Cina dari zaman Five Dynasties (907-960). Ada cermin abad ke-10 yang kembarannya hanya ada separuh di Museum Sichia Cina. Ada batu-batu kristal, gelas berukirkan huruf Arab Kufi, pecahan rubi yang diperkirakan dari Dinasti Fatimiyah, patung kecil manusia berkepala anjing, peralatan upacara agama Buddha, dan cepuk-cepuk berisi candu.

“Yang terbaik kami ambil untuk koleksi negara, di Museum Samudraraksa, Magelang, Jawa Tengah, dan Museum Nasional,” kata Surya Helmi, Direktur Peninggalan Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di kapal itu, misalnya, ditemukan sepasang gagang golok emas. “Satu kami serahkan ke negara,” ujar Adi. Helmi percaya, selama di gudang, tak ada kebocoran. “Untuk membuka gudang harus dengan tiga kunci. Satu kunci di tangan Kementerian Budaya, kunci lain di Departemen Kelautan dan Pak Adi.”

Mengapa benda-benda itu baru bisa dilelang pada 2010? Itu karena Menteri Keuangan Sri Mulyani baru meneken aturan tentang tata cara lelang hasil pengangkatan kapal tenggelam pada Desember 2009.

l l l

Adi Agung mengakui yang memberatkan calon pembeli lelang adalah prasyarat menaruh deposito Rp 154 miliar. “Itu peraturan Menteri Keuangan,” katanya. Menteri Keuangan menetapkan peserta lelang harus mendepositkan uang 20 persen dari harga yang ditawarkan. Pemerintah menjual seluruh temuan Cirebon dengan harga dasar US$ 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar.

Meski gagal di lelang pertama, Adi optimistis lelang kedua, atau ketiga, bisa meraih pembeli. “Pemerintah Singapura berencana membuat museum khusus arkeologi bawah air. Mereka sudah punya koleksi keramik Dinasti Tang (618-907) yang dibeli adik ipar Lee Kuan Yew dari jarahan Tilman di perairan Batu Hitam.” Adi memperkirakan mereka mau membeli keramik dari Five Dynasties karena dengan begitu akan bisa memiliki seri koleksi dinasti secara berurutan. “Museum Cina dan Taiwan juga tengah hunting.”

Namun Amir Sidharta, pemilik Balai Lelang Sidharta, menyatakan ketentuan mengenai jaminan deposit itu bila tak direvisi akan tetap membuat lelang gagal. Boedi Mranata, Ketua Himpunan Keramik Indonesia, sependapat. “Tidak lazim di lelang barang seni harus menyetor uang muka dulu. Lelang harta karun Cirebon tak bisa disamakan dengan lelang proyek,” katanya.

Di mata Boedi, lelang pada 5 Mei lalu adalah lelang dagelan. Menurut dia, sekitar sebulan sebelum lelang digelar, panitia seharusnya mengirimkan katalog kepada calon peserta yang berpotensi membeli. Panitia juga biasanya akan intensif menghubungi calon peserta lewat telepon atau surat elektronik. Tapi semua itu tak dilakukan. “Promosi juga sama sekali tak ada,” kata George Gunawan, Ketua Asosiasi Balai Lelang Indonesia.

Setelah itu, seharusnya ada masa preview, setiap calon peserta bisa bebas melihat-lihat benda yang akan dilelang. “Calon peserta biasanya membawa ahlinya sendiri-sendiri untuk menilai benda-benda itu,” kata Boedi. Namun, untuk lelang Cirebon ini, gudang Pamulang tertutup bagi yang tidak membayar deposit. “Bagaimana bisa berminat bila tidak melihat barangnya terlebih dahulu?” komentar Sugiharto Budiman, kolektor keramik dari Surabaya.

Selain soal harga, Boedi menyoroti model lelang satu lot atau satu paket keseluruhan. Menurut dia, sampai sekarang belum pernah ada barang-barang dari kapal karam yang dilelang gelondongan. Semuanya dilelang per item atau per pieces. “Satu pieces bisa berisi puluhan barang jenis yang sama.” Boedi juga mempertanyakan harga limit lelang yang dinilai terlalu tinggi.

Tapi, sebagai konsultan pemerintah yang turut menilai harga, arkeolog Naniek Harkatiningsih tak sependapat. Menurut dia, dari kacamata arkeologis, harga itu masih terlalu rendah. “Barang Five Dynasties itu langka. Dinasti itu periodenya pendek (907-960 Masehi). Barangnya tidak banyak ditemukan. Harga pembandingnya tidak ada,” katanya.

Menurut Naniek, Five Dynasties adalah dinasti yang pertama kali memperkenalkan porselen berlapis glasir berwarna hijau. Umumnya keramik dinasti Tiongkok, seperti Yuan, Ming, dan Qing, berwarna dasar biru. Sedangkan keramik hijau, menurut peneliti utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional itu, dibuat pada masa Kerajaan Wu-Yue di Provinsi Zhejiang, Cina. Pada masa ini biasanya hanya dibuat barang-barang untuk tribute atau hadiah. “Cuma kita tidak tahu persisnya apakah barang-barang itu dibuat khusus bagi raja-raja atau masyarakat biasa,” ujarnya.

Pada 2007, seusai seminar para ahli arkeologi Asia di Singapura, pernah Naniek mengajak beberapa arkeolog dari Cina bertandang ke gudang Pamulang. “Mereka sangat excited. Mereka bilang di museum-museum Cina sendiri tak ada. Maka sepantasnya lebih mahal,” katanya.

Boedi Mranata mengakui, dari segi sejarah, keramik Five Dynasties memang langka. Tapi, menurut dia, di pasar lelang, barang Five Dynasties “belum panas” karena dari segi estetika masih kalah bagus dengan porselen dinasti lain. Saat ini, tutur Boedi, yang sedang menjadi primadona kolektor di dunia adalah keramik peninggalan Dinasti Ching (abad ke-17). “Apalagi kalau porselen itu ada stempel kerajaannya, pasti sangat mahal.”

Lagi pula, Boedi menambahkan, harga barang-barang keramik dari laut tak pernah lebih tinggi daripada barang-barang dari darat. Harganya hanya sepertiga harga barang darat. Soalnya, barang laut itu biasanya kerepes atau menipis. “Barang-barang laut Cirebon itu, misalnya, glasirnya sudah memudar atau hilang,” ujarnya.

Menurut Boedi, pemerintah mestinya mengikuti jejak Vietnam, yang sukses melelang ribuan porselen dari empat kapal yang karam di perairannya-Hoi An, Bin Thuan, Ca Mau, dan Vung Tau. Kapal-kapal itu dulu dalam perjalanan dari Cina ke Batavia. Meski nasionalismenya tinggi, pemerintah Vietnam menggaet investor asing dan menjual, lewawt balai lelang internasional seperti Sotheby’s, Christie’s, dan Butterfield & Butterfield yang memiliki database kolektor dunia.

“Barang-barang itu dijual per pieces, bukan satu paket. Lelang Butterfield, misalnya, berhasil banget. Keramik asal laut Vietnam menjadi sangat top. Mengapa kita tidak meniru jalan lain yang berhasil?” kata Boedi.

Kesalahan utama pemerintah, menurut Boedi, adalah tidak menjual secara benar. Boedi berpendapat, pemerintah bisa melakukan pelelangan ulang tapi dengan cara yang mematuhi standar lelang internasional. “Pemerintah bisa menggandeng Sotheby’s atau Christie’s ke Jakarta, dan di situ biarlah harga terbentuk secara obyektif,” katanya.

l l l

Namun keinginan kolektor keramik itu tampaknya sulit terwujud. Pekan lalu, melalui Menteri Kelautan dan Perikanan, pemerintah telah menetapkan tidak melanjutkan lelang. Artefak-artefak itu bakal disimpan di museum maritim yang akan dibangun.

Saat ini, tutur Menteri Fadel, sedang dicari ide kreatif mencari uang untuk membangun museum yang tak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Fadel tampak mencari jalan dengan menemui Duta Besar Cina. Ia menawarkan kerja sama mendirikan museum, di Indonesia dan Cina. Namun tampaknya ini masih sebatas gagasan. Soalnya, Fadel belum bisa menjelaskan secara terperinci sumber dana yang digunakan. “Masih dikaji,” ujarnya.

Pemerintah juga agaknya menaati nasihat UNESCO agar tetap membiarkan barang-barang kapal karam sebagai cagar budaya di bawah laut. Namun, bagi banyak kalangan, itu tidak menjamin barang tetap aman. “Saya yakin barang akan habis. Nelayan dan sindikat yang mengambil secara ilegal makin banyak,” kata Boedi.

Juga dikhawatirkan, dengan tidak adanya lelang, banyak pemain besar akan kembali berani memilih pengangkatan dengan menyogok oknum pemerintah. Direktur Operasional Cosmix Luc Heymans sendiri mengeluh, untuk pengangkatan harta Cirebon, telah mengeluarkan US$ 10 juta atau sekitar Rp 92 miliar. “Padahal, kalau memakai jalur pintas, saya tak akan mengeluarkan uang sebanyak itu. Oleh teman-teman, saya disebut stupid investor,” katanya seraya tertawa mengejek dirinya sendiri.

Menurut Luc, biaya yang besar itu juga disebabkan oleh proses perizinan di Indonesia yang rumit. Terlalu banyak instansi pemerintah yang terlibat. “Di Filipina, izin pengangkatan hanya dari museum nasional karena barang dianggap barang seni.” Walhasil, menurut Luc, investasi pencari harta karun di Indonesia sangat tinggi dan belum tentu mendapat hasil. “Apalagi pemerintah Anda selalu tidak mau mengeluarkan biaya, nol.”

Fadel sendiri mengatakan pengusaha yang secara resmi telah mengangkat barang muatan kapan tenggelam akan diberi ganti rugi. “Pemerintah akan bayar,” ujarnya.

Tapi, sebagai catatan, selain PT Paradigma Putra Sejahtera dan Cosmix, masih ada perusahaan lain yang telah mengangkat barang dari sejumlah titik di laut Indonesia dan menyimpannya di gudang masing-masing. Salah satunya milik pengusaha Budi Prakoso dari PT Tuban Oceanic Research & Recovery. Di gudangnya, di Sawangan, ia menyimpan ribuan keramik Dinasti Yuan yang diangkatnya dari kapal tenggelam di perairan Karang Cina, Belitung, pada 2001. Ia telah mendaftarkan barang-barangnya masuk program lelang pemerintah.

Menurut Budi, seharusnya, setelah lelang barang Cosmix dan Paradigma Putra Sejahtera, tahun ini menyusul dilelang barang-barang temuannya. “Saya tunggu lelang ini selama tujuh tahun. Lelang harus tetap ada. Mekanisme lelang kemarin yang salah kaprah yang harus diganti.”

Nurdin Kalim, Pramono, Ismi Wahid, SJS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori