Oleh: arkeologibawahair | 6 November 2010

Pelatihan Arkeologi Bawah Air Air Hitam – Belitung, 7 Juni – 13 Juni 2010

arkeologi.palembang.go.id – Saat ini kebutuhan akan sumberdaya manusia di bidang arkeologi bawah laut dirasakan cukup mendesak. Ini karena semakin maraknya pencurian terhadap peninggalan bawah laut, berupa benda berharga asal muatan kapal tenggelam. Menyikapi hal tersebut maka pelatihan arkeologi bawah air sudah selayaknya dilakukan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang memahami bidang arkeologi bawah laut.

Kegiatan pelatihan arkeologi bawah laut ini diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Palembang bekerja sama dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung dan Direktorat Peninggalan Bawah Air serta EMAS Diving Club Bangka. Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama tujuh hari, 7 Juni – 13 Juni 2010.

Peserta pelatihan adalah arkeolog dan teknisi dari Balai Arkeologi Palembang, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung, serta Direktorat Peninggalan Bawah Air. Instruktur kegiatan berasal dari EMAS Diving Club POSSI Pengcab Bangka.

Lokasi penyelaman berada di perairan Batu Hitam. Di lokasi ini pernah berada kapal Belitung Wreck dari abad ke-9 Masehi. Jenis kapalnya merupakan Dhow Arab.

Ketika itu kegiatan pengangkatan dilakukan oleh Seabord Exploration pimpinan orang Jerman, Tilman Walterfang, pada 1998. Benda-benda yang diangkat antara lain 60.000 keping keramik dari masa Dinasti Tang, timah pemberat, getah damar dari Sumatera, perak batangan berbentuk bantal, sejumlah wadah emas, dan barang-barang Yue.

Setelah berkoordinasi dengan instansi terkait, kegiatan penyelaman baru dilaksanakan pada hari kedua. Lokasi penyelaman berada di koordinat x, dengan kedalaman shipwreck 17 m di bawah permukaan laut. Jarak pandangnya ± 5 – 10 meter, dengan arus yang tidak kencang.

Penyelaman dilakukan dua kali sehari. Lama penyelaman rata-rata 20 menit. Keadaan situs Belitung Wreck sangat memprihatinkan karena kapal dan benda muatannya sudah tidak ada lagi pada tempatnya. Yang tersisa hanya lubang lekukan tempat kapal tenggelam dan pecahan-pecahan keramik yang berserakan. Sepertinya bekas sortiran dan dibuang kembali ke laut karena tidak utuh. Letak pecahan-pecahan keramik tersebut tidak beraturan dan cenderung keluar dari lubang lekukan kapal.

Metode yang dilakukan dalam memetakan situs adalah survei 2D offset, yaitu membuat garis dasar (baseline), kemudian dilakukan titik pengukuran terhadap benda-benda yang dilewati oleh garis dasar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: