Oleh: arkeologibawahair | 16 November 2010

Menuju Arkeologi Maritim Indonesia*

Oleh: Prof. Edi Sedyawati

Dua hal yang menjadi pandangan pokok bagi Diskusi Ilmiah Arkeologi XIV ini, yaitu pertama, pengembangan Arkeologi Maritim, dan kedua, perhatian pada kawasan timur Indonesia dan wilayah-wilayah di sebelah timurnya lagi, seluruh kawasan Oseania yang meliputi Mikronesia, Melanesia, dan Polinesia. Mengenai perlunya perhatian ditujukan ke kawasan Pasifik di sebelah timur Indonesia telah pernah saya lontarkan dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi II tahun 1985. Bahkan dalam pengembangan kurikulum di Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia telah dimasukkan matakuliah “Prasejarah Kepulauan Pasifik”. Namun, kemajuan belum tampak, para ahli arkeologi Indonesia kebanyakan masih terlalu “home bound”, kakinya masih berat untuk melangkah ke luar daerah asalnya.

Pengembangan arkeologi Asia-Pasifik, atau khusus Indonesia-Pasifik, memang memerlukan pemancangan niat yang kuat, disertai program yang terarah untuk pembinaan kemampuan di bidang penelitian dan kerja sama antarnegara, dan juga antarlembaga. Masalah warisan bersama sejarah dan sejarah kebudayaan yang selama ini telah mendapatkan cukup banyak perhatian para ahli arkeologi Indonesia adalah yang berkaitan dengan kawasan Asia daratan, sampai India dan Persia di arah barat, serta Cina di arah utara. Dalam pada itu data kebahasaan menunjukkan adanya kekerabatan budaya antara suku-suku bangsa di Indonesia dengan suku-suku bangsa di kawasan Oseania. Sejumlah penelitian prasejarah pun menunjukkan adanya hubungan-hubungan budaya tertentu, khususnya sebagaimana ditunjukkan oleh temuan keramik tanah liatnya. Petunjuk-petunjuk itu membawa ke arah keharusan adanya komunikasi dan interaksi antarwarga budaya yang berlainan melalui media pelayaran, tentunya dengan melintasi sejumlah kawasan perairan, baik itu laut besar, laut kecil, teluk, ataupun sungai.

Selanjutnya, izinkan saya mengkhususkan perhatian kepada pokok arahan pertama, yaitu pengembangan Arkeologi Maritim. Arkeologi Maritim meliputi dua ranah garapan, yaitu pertama, mempelajari dan menangani segala tinggalan di bawah air, dan kedua, mempelajari segala sesuatu yang terkait dengan kelautan dan pelayaran, namun datanya terdapat di daratan. Sudah tentu ada pokok-pokok bahasan yang aspek-aspeknya, atau tinggalan-tinggalannya, sekaligus ada yang di dalam air dan juga di daratan.

Arkeologi Maritim yang temuannya dapat dijumpai di darat antara lain adalah yang berkenaan dengan sisa-sisa, atau petunjuk, akan adanya pelayaran antarkawasan di masa lalu, seperti ditunjukkan oleh sebaran gerabah sekerabat yang oleh prasejarawan disebut jenis Sahuynh-Kalanay dan Mao-Malayu. Sebutan nekara perunggu pun merujuk pada adanya pelayaran antarpulau, serta antara daratan Asia Tenggara dengan pulau-pulau di Indonesia. Itu adalah data tak langsung mengenai kegiatan pelayaran di masa lalu. Adapun golongan kedua data Arkeologi Maritim adalah, baik yang berkenaan langsung dengan kegiatan kelautan manusia masa lalu, seperti yang menyangkut pembuatan kapal dan penggunaan peralatan penunjang pelayaran seperti untuk menentukan arah, maupun yang berupa perlengkapan penangkapan/pencarian hasil laut seperti ikan, mutiara, dan karang. Peralatan pelayaran dan kenelayanan dari masa lalu itu dapat ditemukan sebagai artefak arkeologi, yang penafsiran akan fungsinya dapat diperkuat oleh adanya data tertulis, seperti catatan-catatan lama, ataupun analogi etnografik melalui pengetahuan akan adat kebiasaan dan teknologi serupa yang masih dapat diamati pada masyarakat-masyarakat etnik yang hidup di masa kini.

Sisa-sisa teknologi dan sistem maritim masa lalu itu sendiri lebih mempunyai peluang untuk masih bisa diketahui melalui tinggalan-tinggalannya yang terdampar di dasar laut, sungai, atau danau. Ini termasuk ranah garapan pertama yang telah disebutkan terdahulu. Arkeolog harus menyelam ke dalam air. Sisa-sisa masa lalu di dasar laut itu dapat berupa sisa-sisa kapal dengan segala sistem manajemen dan peralatannya, maupun sisa-sisa hunian yang tenggelam ke dalam air. Suatu contoh kajian yang dapat disebutkan adalah berkenaan dengan sisa-sisa rumah yang disebut crannog yang ditemukan di perairan Skotlandia dan Irlandia (periksa Robert Munro, 1882, Ancient Scottish Lake Dwelling or Crannogs). Tinggalan crannog di dalam air itu, berkat efek pengawetan dari air itu sendiri, antara lain dapat melestarikan sisa-sisa mentega di suatu wadah, sesuatu yang tidak mungkin bertahan di atas tanah. Sebuah laporan yang sistematis dan komprehensif mengenai temuan kapal VOC yang karam dapat dilihat dalam Hollandia Compendium. A Contribution to the Study of the History, Archaeology, Classification and Lexicography of a 150ft Dutch East Indiamen (1740-1750), yang disusun oleh Jerzy Gawronski, Bast Kist, dan Odilia Stokvis-van Boetzelaer (Rijksmuseum Amsterdam & Elsevier, 1992). Struktur kapal, beserta tata peralatan dan tata penempatan muatan kapal dibahas dengan teliti, diklasifikasikan, dan disertai gambar-gambar detail.

Pengembangan penelitian arkeologi bawah-air sesungguhnyalah memerlukan taruhan besar dalam hal peralatan penelitian serta pelatihan fisik dan mental bagi para penelitinya. Itu semua memerlukan modal besar, dan juga keberanian besar. Bagaimanapun, kiranya adalah amat pantas apabila Indonesia, yang mempunyai perairan begitu luas, juga mempunyai divisi arkeologi bawah-air yang kuat. Usaha ke arah itu sudah dimulai dengan mengirim beberapa ahli arkeologi untuk menjalani pelatihan di negeri-negeri lain. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia pada kongresnya tahun 1999 di Yogyakarta telah pula memuat dalam deklarasinya bahwa Arkeologi Bawah Air harus dikembangkan di Indonesia. Namun, usaha belum maksimal. Berbagai teknik pendugaan, baik mengenai kedalaman laut maupun mengenai kandungan yang terkubur di bawah dasar laut, adalah teknik-teknik yang selalu perlu diikuti pemutakhirannya. Demikian juga teknik-teknik peningkatan keselamatan penyelaman dan pasca-penyelaman, serta juga teknik-teknik pendokumentasian serta pengangkatan temuan-temuan ke atas permukaan air.

Bagi temuan-temuan yang telah diangkat ke atas permukaan air diperlukan berbagai kemahiran lain, yaitu dalam hal konservasi benda-benda sesuai dengan ragam bahannya. Diperlukan juga kajian mengenai sebab-sebab kerusakan yang telah terjadi atas artefak-artefak yang ditemukan itu. Untuk itu, diperlukan keahlian dalam analisis kimia dan (mikro-) biologi. Memang harus diakui bahwa dalam kajian arkeologi bawah-air memerlukan tunjangan berbagai disiplin ilmu lain di luar arkeologi itu sendiri. Sudah matang waktunya bagi kita untuk bahu-membahu antardisiplin, antarinstansi, antarpotensi dalam masyarakat, untuk mewujudkan kekuatan nasional dalam Arkeologi Bawah Air.

Dalam kaitan ini semua perlu diambil sikap bersama yang tegas mengenai data masa lalu yang tersimpan di dalam laut, atau perairan apa pun, yang terpusat pada tujuan pelestarian. Ini tidak berarti bahwa sisi komersial yang dapat dimanfaatkan lalu harus diabaikan sama sekali. Namun, pedomannya harus tetap ”pelestarian dulu”, baru yang lain-lain. Pelestarian, sebagaimana dipahami dalam teks calon RUU tentang Kebudayaan (Ditjen Kebudayaan, 1999), meliputi aspek-aspek perlindungan, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatan. Gawronski (dalam Compendium, 1991:15) mengeluhkan bahwa ada kerangka umum yang disepakati bersama mengenai penelitian arkeologi bawah-air, dan adanya kesenjangan pandangan mengenai nilai dan hakikat dari artefak-artefak yang didapat dari sisa-sisa kapal VOC yang tenggelam. Menurutnya ada dua pandangan yang bertolak belakang mengenai hal itu. Pertama, menganggap bahwa tinggalan arkeologi bawah-air dari kapal-kapal karam itu merupakan sumber informasi ilmiah yang kompleks dan beraneka ragam, dan itu dapat digunakan untuk merekonstruksi kegiatan dan tata perilaku manusia. Sementara itu, pandangan yang kedua melihat artefak-artefak yang ditemukan itu semata-mata merupakan koleksi benda-benda bersejarah yang mempunyai harga pasarannya, dan dengan demikian sasaran dari upaya terhadapnya adalah pengumpulan yang (harus) efisien, yang sering diberi label salah sebagai ”arkeologi”. Contoh pendekatan kedua yang disebutnya adalah perlakuan terhadap peninggalan kapal Geldermalsen oleh M. Hatcher, yang bersifat purely commercial and is not aimed at producing or even keeping a record of archaeological information,’murni komersial dan tidak ditujukan untuk membuahkan, atau bahkan menyimpan (saja) catatan sebagai informasi arkeologi’.

Pengkajian mengenai teknologi pelayaran, beserta segala urusan yang terkait dengannya, seperti teknologi perkapalan dan sistem jalur-jalur pelayaran, ataupun sistem perdagangan lintas laut, sering kali juga dapat diperdalam oleh tersedianya data sejarah yang berupa arsip-arsip, baik mengenai perkapalan, pelayaran, maupun perdagangan, bahkan juga kadang-kadang terkait dengan masalah-masalah budaya dan politik. Dalam keadaan seperti itu diperlukan betul sinergi antara penghimpunan dan analisis data dari sumber-sumber tertulis yang lebih banyak terdapat ’di luar air’. Bagaimanapun, generasi muda ahli arkeologi Indonesia harus bangkit untuk membentuk kekuatan nyata dalam Arkeologi Bawah Air. Saya percaya, bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

*Makalah pada Diskusi Ilmiah Arkeologi (DIA) XIV, bertema “Hubungan Maritim Antara Indonesia dengan Wilayah Sebelah Timurnya”, diselenggarakan oleh IAAI Komda Sulawesi, Maluku, dan Papua, 16-17 Juni 2001. Dibukukan dalam Edi Sedyawati, Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah, halaman 29-34.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori