Oleh: arkeologibawahair | 13 Desember 2010

Berburu Benda Kuno di Perairan Selayar Kepulauan

fajar.co.id, Rabu, 22-07-09 – SETELAH sempat mengendap beberapa tahun, penemuan benda kuno di Kabupaten Selayar Kepulauan, kembali mencuat. Pemicunya, kebijakan Bupati Syahrir Wahab yang memerintahkan pengangkatan ratusan keping benda kuno itu dari dasar laut ke rumah jabatan bupati. Apa motifnya?

LOKASI penemuan benda kuno itu berjarak kurang lebih 15 kilometer arah selatan kota Benteng, pusat pemerintahan Kabupaten Selayar Kepulauan. Tempat barang kuno itu tepatnya berada di pesisir Pantai Sangkulukulu Dusun Tile-tile, Desa Patikarya Kecamatan Bontosikuyu.

Untuk tiba ke lokasi, penulis hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Maklum, kondisi jalan dari Benteng ke lokasi, tergolong mulus. Hanya pada beberapa tempat saja yang ruasnya agak sempit. Maka, perjalanan pun dapat ditempuh dengan singkat dan nyaman.

Tiba di lokasi, juga tidak perlu berpikir menggunakan perahu untuk melihat lokasi mengegerkan itu. Dari rumah penduduk yang mayoritas nelayan, aktivitas penyelaman bisa dilakukan. Maklum, jaraknya dari bibir pantai tidak lebih dari 200-an meter saja.

Saat penulis berkunjung ke lokasi, tepat pada titik benda itu ditemukan, terlihat sebuah kapal yang ukurannya lebih besar dibanding kapal nelayan lainnya. Kapal tersebut rupanya melakukan pengawasan terhadap lokasi yang di dalamnya terbenam benda kuno dan diperkirakan bernilai mahal.

Pengangkatan benda kuno itu pertama kali dilakukan oleh seorang nelayan bernama Aspa Daeng Masinna. Umumnya berupa perabot rumah tangga seperti mangkuk dan piring. Ada juga berupa uang logam yang diperkirakan terbuat dari perak dan perunggu. Dalam berbagai ukuran.

Jika dibandingkan dengan produk sekarang, khusus untuk benda terkecil yang berbentuk piring, bisa dipastikan bahwa benda tersebut diperuntukkan untuk alas gelas. Dari segi warna, ratusan benda kuno yang telah diangkat dari dasar laut dengan kedalaman antara 20-30 meter itu, terdiri atas tiga warna.

Ada yang berwarna hijau menyerupai daun pisang, berwarna putih, serta warna kecoklatan. Namun untuk uang logam, warnanya sulit diidentifikasi karena mulai berbalut karat.

Oleh karena itu, ratusan benda kuno yang kini diamankan di salah satu ruangan di Rujab Bupati Selayar, diperkirakan berusia ratusan tahun. Ada yang memperkirakannya diproduksi antara abad XIV-XVII, masa kekaisaran Dinasti Tang di China.

Tanda-tanda itu bisa dilihat dari fisik uang logam yang diangkat dari dasar laut. Bentuknya memang sama dengan uang logam yang beredar selama ini. Akan tetapi, pada bagian tengahnya berlubang. Perbedaan lainnya, tentu saja pada bahan bakunya.

Bupati Selayar Kepulauan, Syahrir Wahab yang berinisiatif mengamankan benda temuan itu menyebutkan bahwa benda kuno tersebut diperkirakan merupakan barang muatan kapal tenggelam (BMKT). Benda-benda itu dipastikan milik saudagar China yang melakukan aktivitas pelayaran pada masa lampau beberapa abad silam.

Karena benda itu cukup tua, bahan baku untuk membuat piring, dan mangkuk itu hingga saat ini belum ada yang bisa menyimpulkannya, namun dapat dipastikan bahwa benda tersebut cukup kuat. Terbukti, hingga ratusan tahun benda tersebut masih ada yang utuh dan sangat mulus.

Kendati tidak sedikit juga yang sudah pecah dan hanya berbentuk kepingan. Beberapa benda tersebut bahkan sudah menyatu dengan batu karang hingga sulit mengangkatnya.
Benda kuno yang belum diketahui jenis bahan bakunya itu, jika diketuk menggunakan jari, suaranya cukup nyaring. Jika diamati, nyaris sama dengan keramik.

Sejak benda tersebut ditemukan 2004 lalu, tepatnya pada saat masa kampanye pemilihan bupati dan wakil bupati Selayar, masyarakat di daerah ini turut melakukan pengawasan untuk menghindari terjadinya penjarahan. Setiap nelayan atau kapal yang mendekat atau terlihat singgah di sekitar lokasi itu, warga setempat khususnya masyarakat Tile-tile, pasti turun tangan menghalaunya.

Kendati sangat jarang terdengar laporan adanya penyelaman ilegal, namun masyarakat setempat meyakini bahwa sudah banyak yang diangkat diam-diam. Rumor itupun sampai di jajaran eksekutif dan legislatif di daerah ini.

Informasi yang berhasil penulis himpun, benda kuno yang berhasil dijual secara diam-diam oleh kalangan nelayan itu harganya berkisar Rp 100 ribu per keping. Nilai jual benda kuno itu dipastikan lebih tinggi lagi jika yang terlibat tranksaksi adalah pihak yang memiliki jabatan.

Safaruddin, salah seorang penyelam sewaan bupati, mengaku bahwa pada saat pertama kali benda itu ditemukan, dirinya sempat menjual 10 keping yang berhasil diangkatnya diam-diam. “Tapi itu dulu, ketika belum ada perintah dari bos (bupati, red). Sekarang tidak lagi. Ndak tahu yang lain,” ucapnya dengan wajah yang lugu. (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori