Oleh: arkeologibawahair | 16 Maret 2011

Bangkai Kapal Perang Belanda Ditemukan di Perairan Madura

Koran Sindo, Rabu, 16 Maret 2011 – Sisa-sisa sejarah invansi Belanda ke Tanah Air kembali terkuak. Sebuah bangkai kapal yang ditemukan nelayan di perairan Kepulauan Giliraja, Kabupaten Sumenep,Jawa Timur,pada Januari 2011 mulai diteliti para arkeolog dan TNI Angkatan Laut, kemarin.

Hasil sementara penelitian menyebutkan bahwa bangkai kapal itu diperkirakan kapal perang milik Belanda yang karam di perairan Sumenep. Setelah terlihat nelayan Kepulauan Giliraja secara tidak sengaja awal tahun ini, penemuan tersebut dilaporkan ke kepala desa Banmaleng,Kepulauan Giliraja,dan diteruskan ke Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sumenep.Atas permintaan Pemkab Sumenep,TNI AL dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim di Trowulan,Mojokerto, akhirnya menyelam untuk meneliti dan membersihkan bangkai kapal.

Dari penyelaman itu diketahui pada dinding bangkai kapal terdapat pelat bertuliskan ”Fyenoord 1914”. Diduga kuat,tulisan ini merupakan nama kapal sekaligus tahun pembuatannya. Sedangkan di bagian pinggir kapal, juga tertera lengkap angka 455-456.Kemungkinan besar angka ini adalah nomor lambung kapal.TNI AL sudah membersihkan angka tersebut dari karat dan lumut. Saat diteliti kemarin,kapal buatan Belanda itu diperkirakan memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar 6,5 meter.

Peneliti belum berhasil memastikan panjangnya karena setengah lebih badan kapal terbenam dalam pasir danlumpur di dasar laut.Sejauh ini yang baru berhasil diukur sepanjang 1,5 meter. ”Kami telah menyelam sekaligus mendata ciri-ciri dari bangkai kapal tersebut,” ujar salah satu anggota Basarnas TNI AL Serma Muhadi kemarin. Dia mengakui, identitas kapal diketahui setelah petugas menemukan pelat yang berisi informasi tahun pembuatan serta asal kapal.

Sedangkan di ruang mesin kapal terdapat tulisan dalam bahasa Belanda. Isinya,kurang lebih berupa peringatan terhadap awak kapal,”Apabila terjadi panas lebih dari 90 derajat,mesin harus dimatikan”. Kapal perang tersebut masih menggunakan ketel uap. ”Jenis kapal kurang lebih sama dengan kapal perang milik AL tahun 1980-an, yakni jenis kapal torpedo dengan menggunakan ketel uap,” imbuh dia. Muhadi menyatakan, proses pembersihan lumpur dari dalam bangkai kapal masih berlangsung.

”Untuk sementara, kami fokus pada pembersihan saja.Barang-barang yang memungkinkan untuk diangkat, kita amankan ke daratan,” tegasnya Pelaksana Tugas Kepala BP3 Jatim di Trowulan Aris Soviani menegaskan, kapal tersebut adalah kapal perang milik Belanda yang dibuat pada tahun 1914.”Kapal itu dibuat di Rotterdam dengan nomor lambung 455 – 456,” terang Aris saat dihubungi SINDO, kemarin. Dia menambahkan, temuan kapal perang bersejarah ini akan dilaporkan ke Direktorat Peninggalan Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar).

Aris menyarankan agar kapal tersebut berada di posisi semula dan dijadikan objek wisata air.”Laporan lisan saja. Untuk laporan tertulis sedang kami susun,” tutur Aris. Jika usulan kapal kuno ini disetujui Kemenbudpar, secara otomatis posisi kapal tak akan digeser.Hanya, dibutuhkan waktu untuk mengangkat lumpur agar semua badan kapal tampak jelas.

Dengan demikian, keindahan dan desain kapal bisa dinikmati utuh dengan cara menyelam.”Ini akan menjadi objek wisata bawah air yang menarik,”cetusnya. Mengenai kapan keputusan tindak lanjut atas temuan itu sendiri, Aris tak bisa memastikan. Langkah lanjutan,sambung dia,baru akan dilakukan jika sudah ada perintah selanjutnya dari Kemenbudpar. (Subairi/Tritus Julan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori