Oleh: arkeologibawahair | 21 Oktober 2011

Menelusuri Jejak Kemaritiman Tanimbar

KOMPAS/A PONCO ANGGORO

Perahu batu yang diperkirakan dibuat pada abad ke-14 di Desa Sangliat Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara. Oleh warga setempat, perahu batu ini digunakan sebagai peranti acara-acara adat.

KOMPAS, Selasa, 18 Oktober 2011 – Setiap tahun ratusan wisatawan dari sejumlah negara berwisata di Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Kekayaan warisan leluhur masyarakat Tanimbar yang mendiami pulau-pulau di kawasan itu menjadi pesona tersendiri. Salah satu kapal pesiar Australia menjadikan kawasan ini sebagai titik persinggahan. Bagaimana dengan Anda?

Tumpukan bebatuan gamping dan koral di tengah permukiman warga di Desa Sangliat Dol, Wertamrian, MTB, itu membentuk sebuah perahu besar. Perahu berbentuk oval tersebut memiliki panjang 18 meter, lebar 9,8 meter, dan tinggi 1,64 meter.

Di atas perahu, terdapat meja dari batu yang dulu digunakan sebagai altar persembahan kepada dewa. Adapun di bebatuan yang menjadi kerangka bagian depan perahu, terukir gambar ikan dan ayam jantan di antara ukiran lain bermotif spiral.

Perahu batu yang dalam bahasa daerah Tanimbar disebut Fampompar itu menghadap ke arah timur, ke arah Laut Arafura. Dari lokasi perahu berada, laut lepas bisa terlihat. Harap maklum, perahu batu dan permukiman warga memang terletak di ketinggian, sekitar 50 meter dari permukaan laut. Yang memisahkannya dengan lautan hanya pantai berpasir putih dan dinding tebing yang dilengkapi tangga batu, terdiri atas 108 anak tangga.

”Dengan perahu, leluhur kami bisa sampai di pulau-pulau yang kini masuk wilayah Maluku Tenggara Barat, dan juga berpetualang ke daerah lain. Karena itu, perahu menjadi simbol, sehingga perahu batu ini pun dibuat,” kata Hironimus Ayoewembum (47), salah satu tokoh masyarakat Desa Sangliat Dol.


Kosmologi

Arkeolog di Balai Arkeologi Ambon, Maluku, Marlon Ririmasse, mengatakan, perahu batu yang diperkirakan dibuat sekitar abad ke-14 (zaman prakolonial) menjadi pusat kosmologi leluhur orang Tanimbar. Karena itu, musyawarah adat selalu digelar di perahu batu. Bahkan, masyarakatnya pun ditata paralel dengan posisi orang-orang yang mengendalikan perahu.

Menurut Hironimus, setiap kali musyawarah adat, hadir delapan orang perwakilan mata rumah (marga) dari empat soa (kumpulan marga) di Sangliat Dol. Setiap mata rumah ini mencerminkan posisi-posisi orang di perahu, dan di atas perahu batu, mereka pun duduk di tempat masing-masing selayaknya berada di atas perahu yang sedang berlayar.

Kedelapan mata rumah itu adalah mata rumah Masriat yang berperan sebagai nakhoda, Buariat dan Luturmase selaku mualim, Sainyakit dan Anguarmase sebagai juru mudi kiri dan kanan, Batvian dan Ayoewembun sebagai pembicara (juru bicara) besar dan kecil, dan terakhir Lamere sebagai pembaca doa.

”Dulu penempatan rumah warga juga disesuaikan dengan posisi mata rumah di atas perahu batu. Namun sekarang sudah tidak lagi, sudah membaur, karena terbatasnya lahan,” kata Hironimus.


Sebotol ”sopi”

Hingga kini, musyawarah adat di atas perahu batu masih sering digelar. Musyawarah membahas segala hal yang terkait kehidupan masyarakat, seperti membahas areal yang akan digarap untuk pertanian setiap mendekati musim hujan.

Perahu batu sebagai warisan leluhur juga masih dikeramatkan. Bagi wisatawan, untuk mendekati ataupun mengambil foto harus seizin tokoh adat dengan memberikan terlebih dulu satu botol sopi (minuman tradisional yang terbuat dari cairan pohon enau) dan uang yang disebut uang tutup botol sebesar Rp 100.000.

Keunikan perahu batu dan sejarah yang melekat di dalamnya inilah yang menjadikan Sangliat Dol sebagai salah satu destinasi utama wisatawan di MTB. Ditambah lagi tarian adat yang kerap diperagakan saat turis berkunjung dan tradisi bakar batu, tradisi memasak makanan dengan menggunakan batu yang sudah dibakar terlebih dulu dengan kayu bakar.

”Sebelum turis datang, sudah ada komunikasi dengan warga Sangliat Dol, sehingga warga menyiapkan semuanya supaya wisatawan terkesan selama berwisata di sana,” ujar Jery (29), salah satu pemandu wisatawan di MTB.

Wisatawan yang biasa berkunjung ke Sangliat Dol datang dari berbagai negara seperti Australia dan Belanda. Sebagian datang melalui jalan darat, dengan menggunakan mobil sewaan dari Saumlaki, ibu kota MTB, sejauh 41 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan. Sebagian lagi datang dari laut dengan kapal pesiar dan perahu layar (yacht) dari Australia.

Kepala Bidang Produk, Dinas Kebudayaan, dan Pariwisata MTB Nick Kdise mengatakan, tahun 2009, kapal pesiar Orion dari Australia menjadikan MTB, khususnya Sangliat Dol, sebagai destinasi pesiar. Ini setelah Nick mempromosikan daya tarik wisata itu kepada mereka. ”Sejak 2009, kapal Orion rutin datang ke MTB setiap tahun. Sampai sekarang ini, sudah enam kali kapal pesiar itu masuk dan setiap kali masuk, ada sekitar 150 wisatawan mancanegara yang berwisata di MTB,” katanya.

Sebelum kapal pesiar itu masuk, Sangliat Dol sudah menjadi destinasi para wisatawan yang menggunakan perahu layar, umumnya dari Australia. Tak lain karena wilayah laut MTB berbatasan dengan wilayah laut Australia.

Selain Sangliat Dol dengan perahu batunya, Desa Tumbur, Wertamrian, yang berjarak 19 kilometer dari Saumlaki, menjadi destinasi utama wisatawan lain. Desa yang sejak tahun 2005 ditetapkan sebagai desa wisata ini merupakan sentra perajin ukir dari kayu. Ada sedikitnya 160 perajin ukir di desa yang berlokasi di pesisir timur Yamdena, pulau terbesar di MTB.

Sebagian ukiran yang dibuat, bentuknya menyerupai patung-patung pusaka yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Tanimbar, seperti patung manusia yang sedang duduk menopang dagu, sedangkan sebagian lagi merupakan ukiran-ukiran baru yang dibuat mengikuti selera pasar, seperti perahu tradisional belang.

Ukiran-ukiran itu berbahan baku kayu dari pohon eboni, pohon yang endemik di MTB. Sementara ukuran ukirannya bervariasi antara 15 sentimeter sampai satu meter dengan harga antara Rp 15.000 sampai Rp 1 juta per ukiran.

”Banyak pula turis yang datang dengan membawa contoh gambar agar kami membuat ukiran sama persis dengan gambar,” tutur Simon Sainyakit (57), salah satu perajin ukir.


Keluarga Belanda

Kepala Desa Tumbur Philipus Luturyaei mengatakan, keluarga dari warga Tumbur yang tinggal di Belanda banyak berperan dalam menjadikan desa itu sebagai destinasi wisata. Ada 14 warga Tumbur yang memiliki keluarga di Belanda dan masih secara rutin mengunjungi saudara mereka di Tumbur.

”Saat ke Tumbur, mereka banyak membawa teman dan keluarga di Belanda. Dari situlah kemudian Tumbur dan MTB menyebar dari mulut ke mulut, dan semakin banyak turis dari Eropa datang, ada pula dari Swiss, Perancis, dan banyak lainnya,” katanya.

Melihat ukiran-ukiran kayu merupakan salah satu alasan utama mereka datang selain pula melihat pembuatan kain tenun tradisional Tanimbar, karena di desa ini pun terdapat sejumlah warga yang sehari-hari membuat kain tenun tersebut.

Sama seperti ukiran kayu, keahlian membuat kain tenun pun diwariskan secara turun-temurun dari leluhur orang Tanimbar.

Nick Kdise yakin jumlah wisatawan yang datang ke MTB bisa lebih banyak lagi karena masih banyak potensi obyek wisata yang belum dikembangkan, di samping obyek-obyek wisata budaya, akibat minimnya akses untuk menjangkaunya.

Intinya, potensi wisata bahari —termasuk keindahan bawah laut—Tanimbar menunggu polesan lebih lanjut. Namanya saja pariwisata, ya keterjangkauan (aksesibilitas), keamanan, dan kenyamanan tentulah hal yang tak bisa ditawar-tawar….[A Ponco Anggoro]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori