Oleh: arkeologibawahair | 4 November 2012

Para Pemburu Alas Samudra

tempointeraktif.com, 25 Mei 2010 – BAK menjaga kitab kuno, Andi Asmara memegang buku tebal mirip ensiklopedia itu berhati-hati. Ditulis dalam aksara Cina, buku sebesar laptop 14 inci itu memakai judul Inggris: The Atlas of Shipwrecks & Treasure. “Buku ini hanya dimiliki terbatas komunitas harta karun dunia,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Indonesia itu kepada Tempo, Kamis pekan lalu.

Dua lemari tiga meteran penuh buku terpajang di ruang kerja Andi. Sebagian besar perihal harta karun, berbahasa Cina. Lainnya majalah dan kliping koran. Ia lalu membuka The Atlas di atas meja, menunjuk peta Indonesia. Di situ ada puluhan kotak dan lingkaran warna-warni. “Ini tempat kapal terkubur, semua ada 863 titik,” katanya. “Yang kotak sudah diangkat, yang lingkaran belum.”

Membangun bisnis di bidang properti, Andi mulai tertarik pada usaha pengangkatan muatan kapal tenggelam pada 1985. Ketika itu bisnis pengangkatan harta karun mulai bergairah, setelah dua tahun sebelumnya United Sub-Sea Services Ltd. sukses mengangkat barang-barang berharga dari perairan Riau dan Bintan. Dipimpin Michael Hatcher, pemburu harta kelas kakap dari Australia, United mendapatkan harta senilai US$ 17,1 juta-sekitar Rp 170 miliar dengan kurs sekarang.

Andi mendirikan PT Lautan Mas Bhakti Persada pada 1990. Perusahaan ini membuat “debut” dengan menyelami perairan Ternate, Tidore, Papua, hingga Flores. Semua didasarkan pada informasi nelayan. Operasi pertama ini kosong. Lautan Mas baru memperoleh buruannya sembilan tahun setelah didirikan. Dari perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat, perusahaan ini mengumpulkan 13 ribu keping keramik Siam dan Vietnam, keramik Cina Dinasti Song, dan keramik Dinasti Yuan. Semua barang baheula itu kini dititipkan di gudang PT Tuban Oceanic & Recovery milik kolega Andi, Budi Prakoso.

Kepada Tempo, Andi mengatakan menjadikan The Atlas of Shipwrecks & Treasure sebagai panduan. Menurut dia, buku itu dibeli dengan perjanjian untuk menyimpan rahasia. Karena itu, ia tak bersedia menyebutkan penulis atau penerbit buku itu. “Kalau semua orang tahu, repot dong bisnis saya,” ujarnya.

Toh, sebetulnya, The Atlas buku biasa saja. Dari penelusuran di Internet, edisi bahasa Inggris buku itu dijual di situs Amazon.com. Buku baru dijual US$ 68, yang bekas dihargai sepersepuluhnya. Ada pula edisi koleksi, yang dijual US$ 41. The Atlas disusun oleh Nigel Pickford, arkeolog spesialis kapal karam kuno asal Inggris yang bekerja sama dengan Michael Hatcher mengangkat Kapal Vung Tau dari perairan Vietnam.

Seperti Andi menjaga “rahasia” The Atlas, bisnis harta karun ini penuh teka-teki. Satu hal yang pasti: kehadiran sang pemburu, Michael Hatcher.

Perairan Indonesia sarat harta karun. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, ada 463 titik lokasi kapal yang karam pada 1508 sampai 1878. Dari jumlah itu, baru 186 titik yang telah diketahui dengan pasti. Itu pun belum semuanya disurvei. Sejak masa silam, perairan Nusantara dilintasi berbagai kapal yang berlayar dari Cina, Vietnam, Thailand, Borneo, India, lalu menuju Jawa. Kapal tenggelam karena menabrak karang, diterjang badai, atau kalah diserang.

Berabad kemudian, muatan kapal itu menjadi bisnis menggiurkan. Setelah kisah sukses Hatcher mengangkat muatan The Nanking Cargo, pemain lokal bermunculan. Di antaranya Hutomo Mandala Putra, Budi Prakoso, Herman Spiro, dan Andi Asmara. Selain Hutomo alias Tommy, keluarga Soeharto lainnya tertarik. Ada Siti Hardijanti atau Tutut, Ari Sigit, juga Sudwikatmono.

Selain menggiurkan, menurut Adi Agung, Direktur Utama PT Paradigma Putra Sejahtera, yang bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd. mengangkat barang-barang dari kapal karam di Cirebon, bisnis ini kejam. Sebab, tidak ada peraturan tegas yang mengaturnya. “Wilayahnya abu-abu,” katanya. Menurut dia, banyak pemain melakukan pengangkatan tanpa izin atau menggunakan izin palsu. “Semua memiliki beking masing-masing.”

Bisnis harta karun juga unik: membutuhkan modal besar, berisiko tinggi, tapi juga menjanjikan keuntungan besar. Dengan prosedur resmi, memang waktu balik modal sulit diprediksi. Sebab, pengusaha tak boleh menjual sebiji pun harta karun yang merupakan kekayaan negara. Barang hanya boleh dijual bersama pemerintah, dan hasilnya dibagi rata.

Menurut sumber Tempo di Kementerian Kelautan, persaingan keras terjadi di antara para pemain bisnis harta karun. Pemainnya sebenarnya tak banyak, tidak lebih dari 15. Itu pun tak semuanya aktif berburu. Selain nilai harta yang menggiurkan, persaingan dipicu oleh sedikitnya ahli harta karun. Perusahaan berebut tenaga ahli yang umumnya warga negara asing, termasuk Hatcher.

Pada 2002, misalnya, perusahaan Budi Prakoso mempekerjakan Hatcher. Namanya tercantum dalam surat kepengurusan izin pengangkatan yang dikirim PT Tuban Oceanic ke Angkatan Laut. Pada awalnya Budi membantah berhubungan dengan Hatcher. Tapi, setelah Tempo memperoleh dokumen pengurusan izin, ia mengakui pernah mempekerjakan sang pemburu harta.

Ia mengatakan Hatcher ” terlalu banyak mengetahui isi perut perairan Indonesia”. Karena itu, ia beralasan, merekrut pria sepuh itu untuk survei di perairan Selat Mare, Tidore, Maluku Utara, pada 2002. Tujuannya, kata dia, agar Hatcher bisa dikontrol dan tidak mencuri lagi. “Tapi, diam-diam dia kembali ke lokasi dan mau mencuri,” ujarnya.

Hubungan Tuban Ocean dengan Hatcher pun putus. Tiga tahun lalu, PT Comexindo Usaha Mandiri mempekerjakan Hatcher. Ketika itu, menurut Direktur Hukum Comexindo, Haryo Yuniarto, perusahaannya belum masuk dunia pengangkatan harta dan baru membicarakan titik survei. Itu sebabnya, ia menuturkan, Comexindo mengundang para ahli, termasuk Hatcher.

Comexindo memiliki hubungan baik dengan Angkatan Laut. Perusahaan ini merekrut Laksamana Purnawirawan Achmad Sutjipto, mantan Kepala Staf Angkatan Laut, menjadi komisaris. Ada juga Laksamana Muda Purnawirawan Heribertus Sudiro, mantan anggota Fraksi Tentara Nasional Indonesia di Dewan Perwakilan Rakyat, sebagai direktur. Kantor perusahaan ini pun memakai ruko milik Induk Koperasi Angkatan Laut.

Menurut Omar Fazni Rulyadi, Direktur Utama PT Adi Kencana Salvage, perusahaan pemburu harta karun lainnya, persaingan sebenarnya sudah dimulai sejak proses penemuan titik lokasi. Persaingan meningkat pada waktu mengurus izin survei. Pengusaha 30 tahun ini menyatakan pernah mengajukan izin survei di satu lokasi penemuan. Ternyata lokasi yang sama diklaim perusahaan lain. Informasi lokasi penemuan barang paling banyak diberikan nelayan. Tapi tak semuanya akurat. “Atau, informasi yang sama dijual ke perusahaan lain,” tuturnya.

Adi Kencana termasuk yang aktif mencari, menemukan, dan mengangkat harta karun. Dalam laporan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Barang Muatan Kapal Tenggelam, Mei 2010, Adi Kencana mengangkat harta karun di perairan Karang Heluputan (2006) dan Teluk Sumpat (2006), keduanya di Kepulauan Riau. Satu lokasi lagi di perairan Laut Jawa, Jepara, pada 2008.

Untuk ketiga lokasi ini, Omar harus menggelontorkan hampir US$ 8 juta. Hanya, temuan sekitar 60 ribu keping harta dari Dinasti Ching, Ming, Yuan, dan Sung itu kini masih terdampar di tiga gudang yang disewa Omar, menunggu lelang bersama pemerintah. “Selama itu, saya harus bayar sewa gudang, perawatan dan pengamanan Rp 75 juta sampai Rp 100 juta setiap tahun,” katanya.

Malang-melintang di bawah laut sejak awal 1980-an, Berger Michael Hatcher kembali ramai dibicarakan. Dari sebuah video yang diputar Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa beberapa waktu lalu, jagoan pemburu harta karun ini diduga beroperasi di perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat, pada Juni 2009. Dia terlihat memamerkan sejumlah barang porselen yang, menurut dia, berasal dari Dinasti Ming.

Aksi kakek 70 tahun ini mengejutkan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sebuah tim terpadu dibentuk Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Tim ini melibatkan Direktorat V Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI. Polisi pun meminta Direktorat Imigrasi mencegah Hatcher keluar Indonesia.

Kepolisian menyelidiki keterlibatan Hatcher dalam pencurian benda berharga. Selasa pekan lalu, pria kelahiran Inggris ini dipanggil ke Badan Reserse. “Dia tidak datang,” ujar Direktur Direktorat V, Brigadir Jenderal Suhardi Alius, Jumat pekan lalu. Dia memastikan, Hatcher belum menjadi tersangka. “Kami masih mengumpulkan keterangan,” tuturnya.

Pekan ini Badan Reserse kembali melayangkan panggilan pemeriksaan. Suhardi memastikan, Hatcher masih berada di Jakarta. Sumber Tempo menyebutkan Hatcher tinggal di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Ketika dimintai konfirmasi, Zhakira Tamayanti, manajer humas hotel itu, membenarkan Hatcher pernah menginap di sana. “Saya tidak tahu kapan persisnya dia keluar,” katanya.

Michael Hatcher adalah legenda hidup perburuan harta karun. Namanya mulai banyak disebut ketika berhasil mengeruk 225 lantak emas dan 150 ribu keping keramik Cina dari bangkai kapal Vec De Geldermasen di perairan Bintan Timur, April 1985. Dikenal sebagai The Nanking Cargo, kapal itu tenggelam pada 1752. Hatcher meraup US$ 15 juta dari pelelangan barang-barang itu di Balai Lelang Christie, Singapura.

Meski ditangkal masuk Indonesia, Hatcher tetap menyelami dasar samudra memburu harta. Pada Mei 1999, ia menemukan onggokan kapal Tek Sin Cargo, yang tenggelam pada 1822 di Selat Gelasa, seputar Pulau Bangka. Pemerintah buru-buru mengancam mengumumkan itu harta karun ilegal, sebelum Hatcher melelang temuannya di Stuttgart, Jerman, pada 17-25 November 2000 (lihat “Mengejar Sampai Stuttgart”).

Kehadiran Hatcher di perairan Blanakan pada Juni 2009, menurut Koordinator Konsorsium Aset Bangsa, Endro Soebekti Sadjiman, sebagai konsultan yang dikontrak perusahaan lokal, PT Comexindo Usaha Mandiri. Aktivitas Hatcher itu tanpa izin pemerintah. “Sebab, izin baru diberikan kepada Comexindo pada November 2009.”

Budi Prakoso, pemilik PT Tuban Oceanic Research & Recovery, menuduh Hatcher bahkan sudah mengeruk harta sebelum izin survei keluar. Padahal izin survei dan izin mengangkat barang muatan kapal tenggelam dikeluarkan terpisah. Dugaan penyimpangan izin oleh Hatcher dan Comexindo itulah yang dibidik polisi. Itu sebabnya, para petinggi Comexindo telah dimintai keterangan.

Ditemui di kantornya di kawasan Kelapa Gading Boulevard, Jakarta Utara, Direktur Hukum Comexindo Haryo Yuniarto membenarkan pemeriksaan polisi. Menurut dia, polisi telah memanggil Direktur Utama Comexindo Anton Nangoy; Direktur Operasi Edwin Tanod; penyelam Gunawan, Buyung, dan Qoyum; tenaga administrasi Saiful; serta teknisi Nazlie Kurdi, yang berkewarganegaraan Singapura.

Haryo mengatakan, tidak benar Comexindo melakukan pelanggaran penyelaman. Didampingi Laksamana Muda Purnawirawan Heribertus Sudiro, ia menunjukkan surat izin survei dan izin pengangkatan untuk proyek Blanakan. Ia pun menegaskan Comexindo sama sekali tidak lagi melibatkan atau berkomunikasi dengan Hatcher. “Terakhir berkomunikasi empat bulan lalu,” tuturnya.

Dia pun berencana meminta pertanggungjawaban Konsorsium Aset Bangsa, yang menyebutkan Hatcher sebagai konsultan perusahaannya. Ia mengatakan tuduhan itu dilemparkan perusahaan lain yang iri pada temuan Comexindo. “Kami kan mendapat barang bagus dari Blanakan.”

Anne L. Handayani, Muhammad Nafi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori