Oleh: arkeologibawahair | 17 Februari 2012

Concordia Karam di “Kuburan” Kapal Kuno

Ada kapal Romawi kuno dan Yunani yang berasal dari 600 tahun Sebelum Masehi.

vivanews.com, Rabu, 8 Februari 2012 – Kapal pesiar mewah dan canggih, Costa Concordia tak berdaya menghadapi karang di perairan Pulau Giglio, Italia. Pada Jumat malam, 13 Januari 2012, bahtera seberat 114.500 ton itu terguling lalu karam dalam posisi miring.

Kapten kapal, Francesco Schettino, dipersalahkan atas musibah itu, ditambah tindakannya yang memalukan, ngacir duluan meninggalkan kapal dan 4.200 penumpangnya.

Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: arkeologibawahair | 26 Januari 2012

Kapal Karam Armada Sir Francis Drake

Arkeolog menemukan kapal karam ini di perairan Karibia.

Artefak kapal karam di Laut Karibia (REUTERS/ Rico Oldfield/ Deeptrek-IMDI Eco Olas)

vivanews.com, Rabu, 9 November 2011 – Sebuah artefak kapal karam ditemukan di perairan Karibia, Portebelo, Panama. Dalam ekspedisi yang dilakukan tim ekspedisi Deeptrek, kapal tersebut diduga merupakan peninggalan perang antara armada Inggris dengan Spanyol di Karibia.

Seperti dikutip dari laman The Telegraph, kapal ini kemungkinan merupakan salah satu kapal dari armada Inggris yang bertempur di bawah komando Laksamana Muda Sir Francis Drake, sebelum dia meninggal pada 1596.

Dalam galeri foto yang ada di tautan ini, Anda bisa melihat kapal karam di perairan dangkal Karibia ini.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 26 Januari 2012

Kapal Perang Kubilai Khan Ditemukan di Jepang

Kapal dari armada invasi Kubilai Khan ini ditemukan 25 meter di bawah permukaan laut.

vivanews.com, Rabu, 26 Oktober 2011 – Ahli arkeologi kelautan Jepang menemukan kapal, yang diduga armada pasukan Mongol dari abad ke-13. Temuan arkeologi ini ditemukan 25 meter di bawah permukaan laut, di lepas pantai Nagasaki, Jepang.

Arkeolog Jepang ini berharap mereka bisa merekonstruksi pecahan keramik dari Dinasti Yuan, dari kapal milik armada Kubilai Khan ini. Mongol menguasai Cina sejak 1271 hingga 1368, dan saat itu Kubilai Khan mendirikan Dinasti Yuan di Cina yang meliputi wilayah Cina dan Mongolia saat ini. Adapun kapal ini diduga sebagai kapal dari armada kedua Mongol (yang terdiri dari 4.400 kapal perang), yang hilang tahun 1281.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 25 Januari 2012

Pelatihan dan Sertifikasi Selam

Kegiatan pelatihan dan sertifikasi selam dilaksanakan pada 23-29 September 2011 di Kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh 12 peserta, berasal dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Arkeologi Bandung, Balai Arkeologi Manado, BP3 Batusangkar, BP3 Aceh, BP3 Denpasar, dan BP3 DIY. Sejumlah peserta mengikuti sertifikasi mulai jenjang A1 hingga A3.

Jenjang A1
1. Anton Ferdianto (Balar Bandung)
2. Akunnas Pratama (Balar Yogyakarta)
3. Nasrullah Azis (Balar Manado)
4. Azwar Sutihat (BP3 Batusangkar)
5. Andi Fiardi (BP3 Aceh)

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 1 Januari 2012

Pengelolaan Tinggalan Budaya Bawah Air di Indonesia*

Oleh: Widiati
Direktorat Warisan Budaya Bawah Air dan Masa Kolonial


1. Pendahuluan

Sudah sering terdengar bahwa perairan Indonesia kaya dengan sumber daya alam. Namun dalam 30 tahun belakangan ini, sumber daya budaya termasuk di dalamnya. Banyak pemburu ‘harta karun’–terutama dari luar negeri–melirik perairan Indonesia karena kandungan tinggalan budaya bawah air berupa muatan kapal-kapal kuno yang karam di dasar laut. Perhatian tersebut didasari atas latar belakang sejarah perairan Indonesia pada masa lalu sebagai jalur pelayaran perdagangan internasional. Berbagai kapal asing meramaikan perairan Nusantara, dan berbagai kecelakaan akibat berbagai peristiwa buruk memungkinkannya tenggelam di dasar laut. Oleh karena itu, biasanya informasi tentang lokasi kapal tenggelam diperoleh dari nelayan, yang tidak sengaja menemukannya, seperti mangkuk, piring atau guci berglasir. Benda-benda itulah yang menjadi petunjuk keberadaan sisa-sisa kapal kuno di dasar laut.

Peninggalan budaya bawah air di Indonesia mulai menjadi pusat perhatian setelah keberhasilan pencarian dan pengangkatan muatan kapal tenggelam di perairan Riau, Sumatera tahun 1986 oleh seorang warga negara asing. Keberhasilannya meraup keuntungan jutaan dolar dalam lelang temuan muatan kapal, mendorong banyak pihak untuk mengikuti jejaknya mencari, menemukan, dan mengangkat tinggalan budaya bawah air di perairan Indonesia. Namun disayangkan pengangkatan itu tidak diikuti dengan penelitian arkeologi bawah air yang seharusnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 12 Desember 2011

SIDE SCAN SONAR, Teknologi Penginderaan Bawah Laut

Indonesia sebagai negara bahari memiliki luas wilayah perairan sekitar 3,1 juta km2 atau sekitar 70% dari seluruh wilayah Nusantara. Dengan diundangkannya Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) maka luas perairan tersebut menjadi 5,8 juta km2 dibandingkan dengan luas seluruh daratan yang hanya 1,8 juta km2. Kepulauan Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau dengan total panjang garis pantai sekitar 81.000 km. Dengan jumlah penduduk sekitar 231 juta jiwa pada tahun 2009 Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Kepulauan Indonesia terletak di antara benua Asia dan Australia dan diantara samudera Pasifik dan Hindia.

Pemanfaatan yang berkelanjutan dari sumberdaya kelautan tidak saja akan mempengaruhi perekonomian bangsa Indonesia di masa mendatang, akan tetapi juga mampu meningkatkan kebutuhan akan bahan makanan dan bahan baku, posisi dan pengaruhnya terhadap negara sekitar, ketahanan nasional, dan kualitas lingkungan hidup negara secara keseluruhan. Untuk banyak negara, kekayaan dan keanekaragaman hayati laut Indonesia dianggap sebagai sumber bahan baku makanan yang sangat penting seperti berbagai jenis ikan, udang, kerang dan rumput laut. Disamping itu, minyak, gas dan mineral lepas pantai saat ini sedang dieksploitasi dari Laut Jawa, lepas pantai Kalimantan Timur dan Selat Makassar.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 10 Desember 2011

Perendaman Situs Perahu Kuno Molor

Punjulharjo.blogspot.com

mediaindonesia.com, Selasa, 25 Oktober 2011 – Perendaman situs perahu kuno di Desa Punjulharjo, Kecamatan Kota Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dengan cairan kimia jenis “polietilen glikol” belum bisa dilakukan karena masih menunggu hasil laboratorium.

“Sampel material perahu masih diuji di laboratorium kimia dan konservasi milik Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, dan sampai sekarang masih belum bisa disebutkan kapan pengujian berakhir,” kata Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Rembang Edi Winarno di Rembang, Selasa (25/10).

Ia mengemukakan, pengujian di laboratorium kimia dan konservasi dilakukan untuk menganalisis sampel material perahu (kayu), dan perlakuannya ketika direndam polietilen glikol serta derajat kelembaban yang harus dipertahankan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 10 Desember 2011

Situs Perahu Kuno Rembang Direkonstruksi

antaranews.com, Kamis, 15 Juli 2010 – Balai Konservasi Peninggalan (BKP) Borobudur, Kamis, meneliti situs perahu kuno di Desa Punjulharjo, Rembang, Jawa Tengah, dengan fokus pendokumentasian gambar kapal untuk konservasi dan rekonstruksi.

“Dari hasil penelitian ini dan berdasarkan sampel setiap bagian yang ditemukan di badan perahu kuno, BKP akan mengupayakan untuk menggambar kembali bentuk perahu secara utuh, agar hasilnya hampir sama dengan aslinya,” kata Kepala Seksi Pendokumentasian Benda Cagar Budaya BKP Borobudur, Bramantara.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 22 November 2011

Ditemukan Lagi Jangkar Raksasa

[Jangkar kuno raksasa kembali ditemukan nelayan warga Desa Gegunung Wetan Kecamatan Kota Rembang di Perairan Karang Sinden, Sabtu (11/6). (doc)]

suararembang.com, Sabtu, 11 Juni 2011 – Nelayan Desa Gegunung Wetan Kecamatan Kota Rembang, Sabtu (11/6), menemukan lagi sebuah jangkar kuno raksasa di Perairan Rembang, sekitar dua mil atau 3,6 kilometer dari bibir Pantai Kartini Rembang.

Jangkar yang diduga berusia lebih tua dibandingkan jangkar temuan sebelumnya itu, sudah diketahui koordinat keberadaannya pada Jumat (10/6) pukul 12.16 WIB. Adapun koordinat penemuan jangkar kuno raksasa itu adalah 6 derajat 40 menit 742 detik Lintang Selatan dan 111 derajat 21 menit 373 detik Bujur Timur.

Baca Lanjutannya…

Oleh: arkeologibawahair | 22 November 2011

Dihentikan, Usai Kerja Sebulan

Ket. Foto: Warga mencoba melihat kualitas kayu yang sudah mulai lapuk, dari bangkai kapal kuno.

Lasem – Kelompok penyelam berhasil menemukan sebuah bagian kapal yang diduga peninggalan zaman Jepang, di tengah sungai desa Dasun Kec. Lasem. Mereka yang merupakan gabungan warga asal Juana Pati dan dusun Layur desa Gedongmulyo Kec. Lasem ini, sebelumnya bekerja selama sebulan terakhir, ingin mengumpulkan kayu dari kapal kuno tersebut.

Kapal panjangnya sekira 36 meter dan sudah terpendam ke dasar sungai sedalam 10 meter, sehingga pekerja harus bersusah payah menarik. Itupun yang terlihat hanya sebagian saja. Masyarakat sekitar langsung berdatangan ingin menonton.

Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori