Sejarah ABA

Arkeologi Bawah Air (ABA) termasuk Arkeologi Maritim (AM) masih merupakan bidang baru di Indonesia. Perkembangannya sangat lamban dan kurang mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Di samping peralatan yang mahal, pengembangan penelitian ABA memerlukan pelatihan fisik dan mental. Selain itu taruhan nyawa. Tahun 1986 arkeolog Santoso Pribadi, misalnya, hilang ketika sedang menyelidiki pencurian harta karun di perairan Riau oleh sindikat Michael Hatcher. Risiko lain adalah pecah gendang telinga. Hal-hal teknis seperti ini ikut juga menghambat kemajuan ABA di Indonesia.

Sebenarnya amat pantas apabila Indonesia yang mempunyai perairan sangat luas, mempunyai divisi ABA yang kuat. Deklarasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) pada kongres tahun 1999 mengatakan bahwa ABA harus dikembangkan di Indonesia.

Sejak dibentuknya Direktorat Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, pada 2005 ABA mulai digalakkan. Berbagai latihan dan teknis penyelaman sering dilakukan di perairan Karimun Jawa, Baranglompo, Tile-tile, Buton, dan Mandeh. Hal ini menunjukkan bahwa upaya memperkuat ABA dilakukan penuh keseriusan.

Laut menempati jenjang paling atas dalam istilah perairan karena luasnya. Secara umum istilah perairan mencakup pula sungai, danau, dan semua bentuk himpunan besar air. Bawah air sering kali menjadi objek penelitian karena air memiliki sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pangan, sebagai ruang tinggal, dan sebagai ruang jelajah. Karenanya, sejak lama tinggalan budaya yang terbenam di dasar perairan, ditangani serupa dengan arkeologi di daratan. Hanya cara kerjanya yang berlainan karena untuk ABA harus dilakukan penyelaman dengan peralatan khusus.

Istilah ABA pertama kali dicetuskan oleh George Bass pada pertengahan abad ke-20. Namun sebenarnya pencarian dan penelitian terhadap tinggalan di dasar air telah ada sejak lama. Penelitian kapal Caligula dari kerajaan Romawi di Italia, misalnya, telah dilakukan pada 1535 oleh Francisco Demarchi dengan teknik penyelaman sederhana.

Penelitian ABA kemudian semakin berkembang seiring penemuan peralatan Scuba oleh Jacques-Yves Cousteau dan Emile Gagnan pada masa Perang Dunia II. Dengan peralatan selam tersebut kegiatan penelitian dapat berlangsung lebih lama dan menjangkau kedalaman yang lebih jauh. Dalam tahun-tahun pertama, penelitian ABA modern banyak dilakukan di perairan Laut Tengah yang kaya akan tinggalan budaya klasik Yunani dan Romawi.

Pada 1979 satu tenaga peneliti Indonesia, yakni Nurhadi, berkesempatan mengikuti latihan ABA yang dikaitkan dengan AM di Thailand. Penelitian itu dimulai pada 1980, ketika SPAFA (Organisasi Para Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ASEAN) menyelenggarakan program ABA dan AM.

Meskipun penelitian ABA pertama kali dibicarakan pada 1936, namun baru pada 1956 UNESCO mengeluarkan keputusan penting tentang ABA, sekaligus melaksanakan berbagai ekspedisi. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mulai menguji coba kegiatan ABA pada 1981, bekerja sama dengan pasukan katak dari Armada RI Wilayah Timur.

AM sendiri meliputi dua bidang garapan. Selain memelajari dan menangani segala tinggalan di bawah air, AM juga meneliti segala sesuatu yang terkait dengan kelautan dan pelayaran, namun datanya terdapat di daratan. Dengan demikian, situs di daerah pantai atau sungai dan kapal yang tertimbun tanah di daratan menjadi cakupan AM.

Di Indonesia AM yang mula-mula dikenal lewat penelitian perahu kuno dan ABA. Salah seorang pelopornya adalah Pierre-Yves Manguin, seorang pakar sejarah maritim dari Perancis. Manguin meneliti perahu kuno di Indonesia sejak 1977. Dia adalah aktivis di EFEO, yakni Lembaga Penelitian Perancis untuk Timur Jauh.

Banyak kendala yang menyebabkan ABA sulit terlaksana di Indonesia. Kendala terbesar adalah masalah tenaga, biaya, dan hukum laut. Sekadar gambaran, untuk penyelaman di laut dangkal (100-200 kaki atau 30-60 meter), dibutuhkan minimal empat orang bersertifikat. Untuk laut dalam, tentu lebih banyak lagi, termasuk biaya yang dikeluarkan.

Kegiatan ABA banyak manfaatnya, antara lain untuk meneliti sumur kuno, kolam kuno, pelabuhan, kota yang tenggelam, dan kapal-kapal karam. Dibandingkan arkeologi daratan, hasil-hasil temuan ABA menjadi lebih berharga. Artinya kondisi fisik temuan terawetkan karena materi organik dapat bertahan lebih lama di air daripada di udara.

Penelitian ABA sangat luas. Bukan hanya meneliti artefak yang dipandang sebagai ’harta karun’. Pengkajian mengenai teknologi pelayaran, beserta segala urusan yang terkait dengannya, seperti teknologi perkapalan dan sistem jalur-jalur pelayaran, ataupun sistem perdagangan lintas laut, juga dilakukan para peneliti.

ABA dan AM sesungguhnya bukan hanya mengurusi kapal karam atau menangani pelelangan artefak-artefak yang diperoleh. ABA dan AM berusaha mencari data masa lalu dalam berbagai aspeknya.

Indonesia merupakan negara yang potensial karena terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia dan di antara dua benua: Asia dan Australia. Sejak berabad-abad lampau, perairan Nusantara merupakan jalur transportasi internasional.

Sampai saat ini bukti peradaban bahari Nusantara masih terekam dengan baik. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat adanya lebih dari 200 titik kapal tenggelam. Bahkan ada yang menyebut lebih dari 400 kapal pernah tenggelam di seluruh perairan Indonesia. Kapal-kapal itu membawa muatan barang-barang berharga, seperti keramik, emas, perak, mutiara, dan timah dalam jumlah besar.

Yang fantastis adalah informasi dari para sejarawan Cina. Mereka mengatakan ada sekitar 10.000 kapal Cina pada masa lalu yang berlayar ke wilayah Nusantara, tidak kembali lagi ke negerinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s